Kamis, 25 April 2013

PENDIDIKAN ANAK BERBUAH 'ANAK BERPENDIDIKAN' (Review Buku)

Tidaklah ada pemberian yang lebih baik dari orang tua kepada anaknya daripada pendidikan adab yang baik (HR.Bukhari) Anak adalah tumpuan harapan sekaligus amanat yang besar. Orang tua dan pendidik bertanggung jawab untuk mempersiapkan mereka dengan sebaik-baiknya sehingga menjadi insan yang berhasil di dunia dan akhirat. Pendidikan anak adalah sangat penting. Untuk menghadirkan anak-anak yang pandai, cerdas dan bertaqwa bukanlah hal mudah. Peran orang tua, sebagai penerima amanah Allah, sangat menentukan. Orang tua dituntut untuk mampu membimbing dan mengarahkan anak dalam menentukan dan memilih memilih sekolah, hingga mereka tidak salah jalan. Anak sebagai anugrah yang merupakan salah satu nikmat Allah, pahala yang terus turun, dan perhiasan kehidupan dunia bagi kedua orang tuanya. Seorang anak dengan kematangan pribadi, sosial, intelektual dan spiritual adalah hal yang diinginkan banyak orang tua. Tak keliru jika peran pendidikan sangat berpengaruh terhadap proses perwujudannya. Pendidikan yang berlangsung saat manusia masih dalam kandungan hingga menjelang ajal. Dalam Islam dianjurkan (dan diajarkan) agar mengumandangkan adzan ke telinga kanannya dan iqamah ke teliga kirinya saat anak dilahirkan. Ini merupakan ajaran Rosulullah Saw yang bisa dijadikan sebagai satu sarana pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai aqidah sejak dini. Sebuah tuntunan bidang pendidikan yang memliki makna dan tujuan yang sangat dalam untuk perkembangan proses pendidikan seorang anak di kemudian hari. Menerapkan pendidikan anak memang harus mengacu pada Al-Qur’an dan hadist. Kenapa? Karena dalam Al-Qur’an dan hadist banyak kita jumpai konsep-konsep pendidikan islami yang mampu menjadikan anak kita menjadi anak-anak yang shaleh dan shalehah. Proses pendidikan seorang anak dalam keluarga yang baik tanpa masalah, tak luput dari peran orangtua. Peran orangtua sebagai pendidik, akan sukses membentuk anak dengan pribadi yang baik. Komunikasi yang terbangun secara positif, mampu memotivasi anak untuk berperilaku dan bertutur kata secara baik. Bahkan kedisiplinan akan menjadi hal yang tak memberatkan anak karena mampu diterima dan dipelajari anak secara menyenangkan. Mohammad Fauzil Adhim dalam bukunya Membuat Anak Gila Membaca (hal 29) mengatakan "Jika Anda menginginkan anak yang cerdas, berilah rangsangan komunikasi yang aktif sejak dini, khususnya dengan memberi "diet membaca" membaca dapat memberikan rangsangan agar anak memiliki keterampilan berpikir, kemampuan komunikasi, serta kecakapan mental yang baik". Merancang berbagai kegiatan di sekolah dan di rumah yang saling melengkapi mampu membuat anak bisa percaya diri. Saat anak tumbuh dengan keunggulan di bidang tertentu seperti hafalannya, kecakapan di bidang olahraga, kehalusanan tutur katanya, dan keunggulan-keunggulan yang lain, perlu kegiatan lain yang dapat membuat seorang anak menjadi akhlaqul kariimah. Anak yang mampu menjaga keselamatan dunia akhirat. Sejarah keemasan Islam mencatat tentang kecermelangan generasi pertama hingga beberapa generasi sesudahnya yang tumbuh menjadi generasi unggul dengan kematangan pribadi, sosial, intelektual dan bahkan spiritual. Usamah bin Zaid adalah contoh pribadi yang bisa dijadikan panutan. Seseorang dengan keunggulan pribadi yang mampu berkembang secara menyeluruh dan seimbang dibawah didikan Muhammad SAW. Pribadi yang mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan keluarga (karena sudah berkeluarga), serta mampu mengambil tanggung jawab sosial secara lebih besar. Buku Ensiklopedi Pendidikan Anak Muslim ini menguraikan banyak hal tentang berbagai metode pendidikan islami yang dipadu dengan pendidikan modern. Pembahasan secara lebih mendetail pada pendidikan anak, membuat buku ini sangat mungkin untuk dijadikan pedoman atau rujukan bagi pembaca dalam melakukan berbagai kegiatan pendidikan. Selain itu, berbagai masalah dalam berbagai jenjang pendidikan seperti balita, kanak-kanak, remaja dan pemuda mampu diuraikan penulis secara gamplang. Tak hanya guru, para orang tua pun akan menemukan jawaban dari masalah-masalah yang timbul di seputar pendidikan anak di buku ini. Semua aspek pendidikan, agama, perilaku, kecerdasan intelektual, psikologi, kesehatan, sosial dan lingkungan, pendidikan seksual, dan estetika dibahas dalam buku ini. Pembaca juga akan mendapatkan gambaran dan contoh mendidik yang tepat, sekaligus dapat mengukur kecakapan karena buku ini dilengkapi dengan tes penerapan praktek mendidik. Melihat penampilan fisik buku dan harga sebesar Rp. 140.000, buku ini ternasuk tidak mahal dan tidak membosankan untuk dilihat. Saya sebagai pembaca yang semula hanya ingin membuat resensi dari buku ini, ingin membaca lebih jauh. Kalimat-kalimat yang tertera sangat membuat betah untuk membaca lebih lama dan tidak membuat bosan bagi orang awam yang ingin mengetahui seluk beluk tentang pendidikan islam di kehidupan sehari-hari. Sangat cocok juga untuk berbagai lingkup instansi atau organisasi yang bergerak di bidang pendidikan anak. Judul : ENSIKLOPEDI PENDIDIKAN ANAK MUSLIM Penulis : Hidyatullah Ahmad Penerbit : Robbani Press Tahun Terbit : 2008 Pengantar : Mohammad Fauzil Adhim (Penulis Buku Positive Parenting)

Selasa, 13 November 2012

UMS LIBRARY : MENUJU PERPUSTAKAAN YANG ‘USER FRIENDLY’

Peran perpustakaan sebagai salah satu unit pendukung kegiatan ilmiah mahasiswa dalam sebuah lingkungan pendidikan sangatlah besar. Sudah sewajarnya bahkan bisa dibilang sebagai suatu ‘keharusan’ jika perpustakaan melakukan berbagai upaya pembenahan dalam berbagai sisi. Perpustakaan harus mampu berubah sehingga bisa berperan sebagai ‘partner’ handal mahasiswa dalam melakukan aktifitas ilmiah.Perubahan yang dilakukan dalam hal layanan, bukan hanya dari kuantitas saja, tetapi juga dari segi kualitasnya. Kuantitas, berarti perpustakaan mampu menyediakan berbagai jenis layanan dengan jumlah yang cukup beragam. Sedangkan kualitas, berarti perpustakaan senantiasa melakukan perubahan untuk bisa memberikan layanan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mahasiswa. 
Melalui pendekatan perpustakaan yang baru (paradigma baru), Perpustakaan UMS senantiasa melakukan perubahan dalam rangka peningkatan kualitas layanan. Melakukan berbagai kegiatan yang lebih banyak melibatkan peran mahasiswa, diharapkan mampu menciptakan layanan yang benar-benar berorientasikan kepada pemustaka (mahasiswa). Berani keluar dari ‘pakem lama’, akan membuat perpustakaan menjadi pilihan utama mahasiswa sebagai tempat untuk berkegiatan ilmiah diluar kegiatan perkuliahan. 
Kualitas layanan yang disediakan perpustakaan UMS, akan semakin lengkap saat dipadukan dengan beberapa perubahan yang terkait dengan sarana fisik seperti gedung dan furniture (meja kursi baca dan rak buku) yang menarik (tidak kuno). Suasana menyenangkan yang dirasakan mahasiswa saat berada di perpustakaan adalah hal yang sedang diupayakan/dilakukan oleh Perpustakaan UMS. Go green, warna-warna cerah dinding setiap ruangan yang ada di berbagai lantai, furniture dengan tampilan yang menarik, adalah agenda berikut yang akan dilakukan. 
Kualitas layanan perpustakaan UMS semakin nyata dirasakan pemustaka (mahasiswa) saat kebijakan/peraturan terkait pemanfaatan beberapa fasilitas, koleksi, dan layanan juga berubah, disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan pemustaka. Beberapa kebijakan/peraturan baru tersebut diantaranya adalah bertambahnya jumlah buku yang bisa dipinjam, peminjaman saat hari libur (Holiday Loan), penambahan jam buka layanan, Pelatihan Layanan Prima bagi petugas perpustakaan, dan penerbitan tabloid Info Perpustakaan sebagai media tempat informasi terbaru (up date information) bagi perpustakaan. 
Perubahan yang berujung kemudahan sudah seharusnya selalu dilakukan oleh perpustakaan UMS. Karena salah satu ciri perpustakaan ideal adalah mampu menawarkan kemudahan yang pada akhirnya mampu memanjakan pemustaka. Mudah, cepat, tepat, menarik, ramah, dan puas adalah beberapa hal yang perlu diramu secara pas, hingga menjadi pas bagi pemustaka dan pas bagi perpustakaan. (Kenretno-Pustakawan UMS)

HAJI : ANTARA EGOISME DAN ALTRUISME

Bangsa Indonesia patut berbangga. Sebab, jumlah jamaah haji Indonesia ternyata terbanyak bila dibanding negara lain. Dari sekitar 43.478 orang yang tiba di Madinah pada 10 Oktober lalu, 32.276 adalah jamaah haji asal Tanah Air (hidayatullah.com. 10/10).Posisi itu paling tinggi di atas India dan Turki.
Dalam hal ini, ada dua hal kenapa harus bangga. Pertama, kesadaran warga Indonesia menunaikan rukun Islam ke lima sangat tinggi. Kedua, jika melihat biaya haji yang tinggi, hal itu indikasi bahwa ekonomi masyarakat, terutama umat Islam relatif menggembirakan.Seperti dilansir DetikNews.com (23/06), jumlah jamaah haji tahun 2011 mencapai angka sekitar 200 ribu peserta. Peringkat paling atas diwakili Jakarta dengan jumlah 60.197 kemudian disusul Surabaya 40.398 orang. Angka itu belum lagi jika ditambah calon haji (calhaj) yang masih dalam daftar tunggu (waiting list) yang jumlahnya juga tidak sedikit. Angka tersebut tentunya akan lebih besar bila digabung. Kenapa hal ini perlu dikalkulasikan? Bila melihat cost haji yang cukup besar, atau sekitar Rp 30 juta, maka kalau Rp 30 juta itu dikalikan 200 ribu, hasilnya akan sangat besar. Triliunan rupiah! 

Sekarang, mari kita lihat jumlah penduduk Indonesia tahun 2011. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), pada tahun ini, jumlah penduduk negara ini mencapai sekitar lebih dari 241 juta jiwa. Dan, mari kita coba lihat lagi standar kemiskinan yang dibuat Bank Pembangunan Asia (ADB). Menurut ADB, dikatakan miskin bila berpenghasilan di bawah 1.25 dollar AS per hari atau sekitar Rp 10.625. 
Di Indonesia, entah berapa persen masyarakat yang tergolong berpendapatan di bawah 1.25 dollar. Tak terlalu penting sebenarnya data itu. Sebab, bila melihat realitas yang ada, setidaknya data itu telah terjawab. Lihat saja kesejahteraan masyarakat yang masih sangat jauh dari harapan. Begitu pula jumlah pengangguran, pengemis, gelandangan yang masih banyak. Lihat saja ketika bulan puasa tiba. Tontonan mustahik yang berebut zakat dengan begitu mengenaskan hingga merenggut nyawa kerap terjadi. Realitas itu hingga kini bak benang kusut yang sulit diurai. Bagi masyarakat yang mampu berhaji, tentunya pendapatannya di atas Rp 10 ribu per harinya. Atau setidaknya tidak termasuk kelompok yang hidup di bawah garis kemiskinan. Pendapatan mereka per hari bisa berkali lipat. Bisa Rp 100 ribu atau bahkan lebih. Tergantung profesi. Pejabat biasanya bergaji jutaan rupiah per bulan. Begitu juga pebisnis, per bulan bisa meraup puluhan juta rupiah atau bahkan lebih. Haji sebenarnya memiliki nilai prestise tersendiri bagi masyarakat. Tidak saja secara transendtal –memenuhi perintah Allah--, tapi juga secara sosial-kultural. 
Orang yang telah berhaji biasanya dianggap alim atau shaleh. Karena itu, biasanya, orang yang telah berhaji mendapat julukan baru:al haj atau haji/hajah yang diikuti perubahan lahiriyah. Seperti dari gaya berpakaian yang lebih Islami. Karena itu, tak begitu heran bila masyarakat berlomba-lomba menunaikan ibadah yang menelan dana puluhan juta rupiah itu. Hal itu akan lebih berbeda lagi bagi para “pejabat”. 
Tak sedikit di antara mereka yang melakukan haji lebih dari satu kali. Itu belum lagi kalau dihitung umrah. Bisa jadi, hampir setiap tahun berangkat umrah. Pasalnya, konon, umroh dan haji dianggap cara moncer untuk membangun brand image citra politik maupun sosial di masyarakat. Apalagi, bila sedang dililit kasus. Pergi ke tanah suci, biasanya menjadi solusi. Adanya orang naik haji lebih dari sekali bisa menjadi ritus paradoks dalam konteks kemasyarakatan. Apalagi bila selama ini tidak memberikan sumbangsih apapun. Namun, lebih mengutamakan hajinya daripada berbagi (altruisme atau itsar) kepada sesama. Padahal, altruisme juga penting daripada egoisme dalam beribadah. Karena itu, pertanyaannya: apa gunanya haji tapi apatis? Apa gunanya haji tapi asosial? Padahal, indikasi kesuksesan haji, salah satunya diukur dari keshalehan sosial. Coba bayangkan bila angka 200 ribu orang haji itu memiliki sifat altruistik yang tinggi. Satu orang, misalnya, bisa mengentaskan satu atau bahkan dua orang yang hidup dalam kemiskinan. Niscaya, 200 ribu orang dapat terbantu. Apalagi kalau itu terjadi pada tiap tahunnya. Tidak terlalu sulit. Untuk keluar dari garis kemiskinan caranya mereka disuntik agar pendapatan mereka melebihi angka Rp 10 ribu per hari. Tidak terlalu banyak. 
Seorang muslim yang berhaji tentunya memiliki spirit altruisme yang besar. Spirit itu setidaknya akan didapat ketika melakukan serangkaian ibadah haji: thawaf, ihram, wukuf, sa’i, dan ketika tawaf mengitari kabah. Ada tanggung jawab sosial di situ: di mana muslim hidup tidak hanya mengendepankan egoisme personal, tapi juga punya tanggung jawab sosial, seperti satu tubuh. Ada cerita menarik tentang ini. Suatu waktu, ada ahli sufi, Ibrahim bin Ahmad, bemimpi, ada dua malaikat turun ke bumi dan berbincang. “Tahun ini ada berapa jamaah yang hajinya diterima oleh Allah?” tanya salah satu malaikat kepada malaikat yang lain. Malaikat yang lain menjawab,” Dari sekian ribu jamaah, tak satupun yang diterima kecuali seseorang dari Damaskus bernama Muwaffaq.” Setelah terbangun, Ibrahim berniat mencari kebenaran mimpinya. Ia pun bergegas menuju Damaskus mencari orang yang dimaksud. Setelah bertemu Muwaffaq, Ibrahim menanyakan itu. Muwaffaq menjawab pertanyaan itu, “Sudah lama aku ingin berhaji, tetapi selalu kesulitan dana. Suatu saat aku mendapat untung besar dan aku pun berencana naik haji. Tetapi, saat hendak berangkat, aku mendapati anak-anak yatim di sekitar rumahku kelaparan hingga harus memakan bangkai keledai selama tiga hari. Akhirnya aku batalkan rencana pergi haji dan kuberikan ongkos hajiku itu untuk menolong mereka.” Jadi, apabila gelar Al-hajj telah disandang, tapi altruisme tidak terpatri di dalam dirinya, atau bahkan egoisme makin bertambah, perlu dipertanyakan kemabrurannya: kira-kira diterima atau tidak ibadahnya? Jadi, di mana hati orang yang berhaji hingga dua kali tapi belum berbuat apa-apa bagi orang tidak mampu di sekelilingnya? Jika demikian, tanyalah pada onta di padang pasir! 

Syaiful Anshor (Alumnus STAI Lukman Al Hakim, Surabaya)

Sumber :
http://www.fiqhislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=35671&Itemid=82) 

Kenretno's Note :
Kutemukan saat aku pengin tahu lebih dalam tentang haji ditinjau dari sisi kEhidupan sosial. Mencoba menjawab kegusaran hati dan pikiran saat 'kecamuk hati' atas hukum haji ke 2, 3, dst.

Senin, 19 Juli 2010

IBU.....KAPAN AKU BISA TIDUR DISISIMU ?

Tersentak hati Bu Dina mendengar permintaan anaknya. Anak laki-lakinya ingin ditemani tidur, ingin diberi kehangatan darinya….kehangatan seorang ibu, Kehangatan…kasih sayang ibu.
Sebagai seorang wanita yang cantik, Dina memiliki hampir segala yang diimpikan kaum wanita. Parasnya ayu, manies dan selalu enak dipandang. Bentuk hidung, mata, alis, bulu mata hingga ke garis pipi yang tertata indah bak bulu perindu diatas bintang timur diwaktu senja. Postur tubuhnya sangat ideal untuk seorang wanita. Kulitnya yang putih dan jenis rambutnya yang panjang hitam bergelombang menambah nilai keaggunannya. Kemolekan lekuk tubuhnya menyebabkan ia sering disebut wanita terseksi.

Dina, seorang wanita karir pada salah satu perusahaan swasta besar di Ibukota, termasuk wanita yang cerdas. Ditunjang pendidikan formalnya yang merupakan alumni Pasca Sarjana Komunikasi Universitas ternama.

Loyalitas terhadap perusahaan tidak diragukan lagi, sehingga menjadikan dirinya sebagai salah satu 'maskot' pegawai diperusahaannya. Tak heran bila karirnya bagai 'rising' star. belum sepuluh tahun bekerja, dia sudah menduduki jabatan penting, setingkat Department Head (Kepala Bagian). Dikenal dekat dengan bawahan. Suppel dan mampu berkomunikasi dengan baik dengan jajaran pimpinan. Tipikal Dina selalu menjadi bahan pembicaraan dikalangan pegawai, gunjingan hingga tentu saja 'fitnah' dari orang-orang yang tidak menyukainya. Apalagi ketika terdengar kabar bahwa dia akan dipromosikan menjadi salah satu deputy kepala divisi.

'ah...paling dengan keseksiannya' kata mereka yang tidak suka.

"Ibu mau kemana....?" tanya Fitri, puteri bungsunya

"Ibu mau berangkat ke kantor nak..." jawab Dina, sambil merapihkan pakaiannya

"Kok masih gelap bu....bareng ayah gak bu...?" tanya Fitri lagi dengan bahasa anak yang agak cadel

"Ayah khan belum pulang nak. Masih di Bandung..." jawab dina, tanpa memalingkan wajah dari cermin hiasnya

Jam masih menunjukkan pk. 04.25 pagi. Hari masih gelap. Anak-anaknya masih terlelap, kecuali Fitri yang terbangun karena mendengar suara peralatan riasnya.

"Aku tidak boleh terlambat...aku harus tiba sebelum Bos dan Klienku datang.." pikir Dina dalam hati

"Bu, aku masih mau tidur...." kata Fitri

"Iyya nak...."

.Dina mencium kening anak puteri satu-satunya itu. Dengan penuh kasih sayang dipeluknya erat sambil berkata pelan, "Nanti sekolah sama si Mbok ya....sarapan disekolah juga gak apa-apa kok...Ibu harus berangkat pagi-pagi..."

"Ah, Ibu...kemarin sudah pagi pagi...kemarinnya lagi pagi, sekarang pagi lagi..." keluh Fitri, dengan menggeleng-gelengkan kepalanya

"Fitri, Ibu bekerja juga untuk Fitri. Untuk sekolah Fitri dan Adit.....untuk membelikan Fitri rumah-rumahan dan masak-masakan..." jawab Dina pelan

"Tapi Ibu selalu pulang malam. Fitri gak pernah tidur bareng Ibu. Makan sama si Mbok...sekolah juga sama si Mbok...." keluh Fitri lagi sambil menggulingkan tubuhnya.

"Fitri, Ibu mau berangkat.....kamu berangkat sama si Mbok ya...!" seru Dina dengan sedikit keras dan wajah agak memerah.

Dina segera keluar kamar. Dia memang tidur bersama anak puterinya yang masih berusia tiga tahun. Ketika akan membuka pintu kamar, Dina menyempatkan diri melihat raut wajahnya dicermin.

Terlihat jelas rona merah diwajahnya. Warna kulitnya yang putih menambah kejelasan 'rona merahnya'. Dina menghela nafas panjang, kemarahan sesaat telah merubah tutur bahasanya. Sudah merubah pula paras ayunya...

"Huh...Fitri selalu membuat aku marah....Fitri sering memperlambat jalanku ke kantor..." keluhnya sambil mengusap keringat didahinya.

"Ah sudah pk. 04.45...aku bisa terlambat ..."

Dina mempercepat langkahnya. Sampai diteras rumah keraguan muncul dihatinya....Dia belum sempat bicara dengan Adit, anak sulungnya...

"Ah dia khan sudah tujuh tahun. Sudah lebih besar. Dia pasti ngerti lah..."

-oooOooo-

Presentasi mengenai pengembangan perusahaan, khususnya bidang komunikasi, kemitraan dan pemasaran yang dipaparkan Dina memdapatkan sambutan luar biasa dari Stake Holder (Pemegang Saham, Komisaris, Jajaran Direksi dan Mitra Kerja). Sambutan itu ditandai dengan tepuk tangan meriah sambil berdiri dan ucapan selamat yang seolah tak putus.

Senyum sumringah tersembul dari wajah Dina. Perasaan puas memenuhi rongga hatinya. Dia menghela nafas panjang. Memejamkan mata sesaat...."Akhirnya aku berhasil...."

Untung aku bisa mempersiapkan diri dengan baik. Untung juga aku tiba lebih awal sehingga bisa mengkondisikan semuanya.......

"Dina selamat ya....tidak sia-sia kami menempatkan kamu sebagai Dept Head Promosi & Kemitraan....." kata seorang Direksi sambil menjabat erat tangan Dina.

Jabatan tangan yang terasa 'lain'. Terasa ada getaran 'hangat' yang menjalar melalui jari-jari terus hingga pangkal tangan, dan meluncur deras dihati. Jantung berdegup kencang...entah perasaan apa itu. Yang jelas perasaan itu membuatnya pikirannya 'kacau', hatinya diliputi oleh suatu misteri..entah misteri apa

"Dina, kerja kamu luar biasa.....masih muda, cantik, jenius....tak salah jika Perusahaan memberimu posisi tsb....." kata seorang Komisaris

Pujian komisaris menambah kencang degup jantungnya...seolah darah berhenti mengalir. Seolah kaki sulit untuk digerakkan. Dengan menghirup nafas pelan, Dina membalas pujian tsb

"Terima kasih Pak..terima kasih...semua berkat bantuan dan bimbingan Bapak..."

"Berapa usiamu sekarang... adakah 40...?" tanya Komisaris itu lagi

Dina tersipu malu.....rona merah kembali menghiasi wajahnya....

"Saya baru 34.... Pak..." jawab Dina sambil tertunduk malu

"Wow...Surprise...kita memiliki calon direksi termuda. Cantik, jenius dan ber-visi...semoga kamu sukses ya...."

Dina terkesima. Tak percaya. Calon direksi....? ah, gak mungkin... aku salah dengar....

-oooOooo-

Minggu, pk. 04.00 Dina terbangun.

Ohhhhh....lelah pikiran dan badannya membuatnya agak sedikit malas untuk bangun. Namun undangan stake holder untuk sekedar minum kopi pagi di Kafe Padang Golf mengharuskan dia untuk segera bergegas.....

"Ah....ngantuknya....."

Dina kembali merebahkan badannya....rasanya dia ingin meliburkan diri bersama anak-anaknya....terutama Fitri yang kemarin membuatnya sedikit marah....

Tapi...undangan Direksi dan Komisaris adalah sebuah 'Perintah'...laksana titah Raja yang harus dijalankan, meskipun hanya ajakan sambil lalu...

"Ahhhh....."


Dina mulai menyiapkan diri. Mandi pagi dan sedikit bersolek....tampil agak cantik dan...hmmmm..seksi dikit rasanya tidak apa-apa. Toh akan bersantai bersama orang-orang penting 'penguasa' kantor....'apalagi bila....bila ada yg tertarik padaku...' pikirnya..

'ah pikiran ngelantur.....' pikirnya lagi

"Ibuuuu....Tolong tiduri aku Bu...." seru Adit sambil berjalan pelan dan membawa bantal guling yang sarungnya entah kemana

"Adiiit....?" tanyanya heran

"Adiit...." seru Dina kembali. Heran, tidak biasanya Adit bangun pagi dan pindah ke kamarnya.

"Ibuuu...tolong tiduri aku bu...semalam aku gak bisa tidur...aku kepikiran Ayah....aku ingin bermain bersama Ayah...."

"Adit. Hari ini Ibu masuk kantor....Ibu akan bertemu Bos di kantor..." jawab Dina

"Ibuuu...tolong tiduri aku...aku ngantuk ...pengen tidur bareng Ibu..." pinta Adit, kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Dina, Ibundanya...

Dina terdiam. Hatinya semakin membuncah....perasaan malas memenuhi undangan Direksi kembali muncul....tapi motivasi untuk memperlihatkan loyalitas demikian tinggi...dus, dia sudah berdandan seksi.

Diusap-usap perlahan kepala Adit. Rambutnya yang sedikit ikal bergelombang mirip seperti rambutnya. Bentuk wajahnya yang agak oval dan halus merujuk pada ayahnya...

"ahhh..aku jadi ingat Mas Darman. Wajah Adit mirip ayahnya....semalam dia memberi kabar kalau Meeting di bandung diperpanjang karena banyak Klien baru yang ikut datang...." bathin Dina dalam hati....seketika ia merasa bersalah dengan suaminya.

"Adiiit, Ibu harus pergi sayang.....Ibu harus masuk kantor....."

"Tapi buu..." Adit tidak bisa meneruskan kalimatnya, karena Dina mengangkat kakinya perlahan, sehingga kepala Adit berpindah ke bagian pinggir tempat tidur.

Dina meneruskan riasannya dimuka cermin yang ada di sisi kanan tempat tidurnya. Bibirnya diolesi lipstick tipis warna merah muda, sesuai dengan pakaian yang dikenakannya. Pakaian terbaik yang dimilikinya, hadiah Ulang Tahun dari Mas Darman suami tercinta.

"Mas Darman pasti akan silau bila melihat aku sekarang. Pasti akan memujiku 'Cantiiik'..hehehe...sayang dandananku saat ini untuk orang lain...."

"Huk..huk..huk.." suara batuk kecil beriak keluar dari mulut Adit

"Adiit, kamu batuk. Jajan apa kamu kemarin" tanya Dina sambil terus memainkan penghalus bedak dipipinya

"Huk..huk..huk.." suara itu kembali terdengar

"Mboookkk....tolong ambilkan air putih hangat. Adit batuk nih" teriak Dina dari dalam kamarnya

Tepat pk. 05.00 Dina meluncur menuju Kafe Padang Golf. Perjalanan akan memakan waktu 30 menit. Cukuplah. Karena pertemuan dan sarapan kopi pagi baru akan dimulai pk. 06.00. Tapi biasanya banyak yang sudah datang dengan perlengkapan stick golf, termasuk pemilihan 'caddy' pendamping permainan golfnya nanti.

-oooOooo-

Dina sangat menikmati suasana Kopi Paginya. Dia begitu cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tidak ada lagi perasaan canggung, malu dan minder bercengkerama dengan jajaran Direksi, Komisaris dan Pimpinan Unit Mitra Kerja. Apalagi dalam acara yang dikemas secara informal ini. Seolah ia sudah menjadi bagian dari mereka. Jajaran elit perusahaan.

"Penuhi jiwa ini dengan satu rindu...rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu...meski tak layak ku harap debu Cinta-MU" ringtone HP Dina berbunyi....

"Maaf Pak,,,,,,," Dina tak sanggup meneruskan kata-katanya untuk meminta ijin mengangkat Hpnya

"Silakan ..silakan....ini suasana santai kok" jawab salah seorang Direksi

"Permisi Pak"

"Meski begitu ku akan bersimpuh... Penuhi jiwa ini dengan satu rindu...rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu...." ringtone itu terus berbunyi...

Ditempat yang agak jauh dari kerumunan orang Dina mengangkat Hpnya...

"Hallo...." sapanya

"Bu...kamu ada dimana sekarang....?" tanya suara disana dengan lembut

"Sedang bersama Direksi dan komisaris di kantor.. Yah..." jawab Dina

Ohhh,...ternyata dari mas Darman, suaminya. Dina terbiasa memanggilnya Ayah, menyesuaikan diri dengan panggilan anak-anaknya

"Loch emangnya masuk... ?" tanya Mas Darman lagi

"Iyya Yah..."

"kapan pulangnya...Adit sakit di rumah kata si Mbok..."

"nanti siang.....atau mungkin juga sore..."

"Yaa sudah...biar Ayah saja yang pulang segera"

-oooOooo-

Pk. 15.30 Dina kembali kerumahnya. Sarapan Kopi Pagi di kafe Padang Golf ternyata diteruskan dengan acara ramah tamah dan meeting informal dengan Mitra Kerja dan Klien. Beberapa Kontrak Kerja 'deal' dalam ramah tamah itu. Dina baru mengetahui kalau banyak 'deal' 'deal' kontrak kerja yang putus di Kafe, Padang Golf serta jamuan makan. Mungkin karena lebih santai dan informal....pikirnya, sehingga lebih mudah untuk bicara dari hati ke hati

Tiba di ujung jalan pemukiman, Dina melihat banyak orang berduyun menuju satu rumah dengan membawa nampan, rantang dan gelas-gelas kecil.

"Ada apa ini...?" tanya Dina dalam hati

Ada bendera kuning terikat di atas tiang listrik tepi jalan...

"Ohh ada yang meninggal...."

Dina mempercepat langkahnya. Ia juga ingin melayat. Ia tak ingin juga tertinggal dalam urusan sosial di lingkungannya....

Tak berapa lama Dina tersentak. Kakinya kaku tak bisa digerakkan....dia melihat banyak orang berkerumun dipekarangan rumahnya. Kebanyakan ibu-ibu dan wanita yang mengenakan pakaian berwarna gelap dan berkerudung. Bapak-bapak ada di ruang tengah...

"ohh...apakah...apakah....."

"Tidaaaakkkkkkkkk"

Dina mencoba untuk berlari. Namun kakinya semakin sulit bergerak.

Air mata Dina deras mengalir ketika ia melihat seorang bapak berpeci hitam dan berpakaian muslim putih sedang melantunkan ayat-ayat Qur'an. Dari suaranya tersendat terlihat jelas bahwa Bapak itu menahan tangis. Kadang sesegukan sesekali menghambat laju bacaan Qur'annya..

"Mas Darman.....Ayahhhhhh" seru Dina setengah berteriak

"Ayah siapa yang meninggal Yah....?" tanya Dina kepada Bapak yang sedang mengaji tadi

"Ayah..siapa yah....?" tanyanya lagi

Bapak tadi tidak menjawab. Telunjuk jarinya mengisyaratkan bahwa Dina bisa membuka kain kafan yang belum tertutup

Dengan sedikit merangkak, Dina berjalan tersendat, dan membuka kain kafan penutup wajah si mayit.

"Yaa Allah...Aadiiitttt" Dina langsung memeluk tubuh jenazah itu

"Maafkan Ibu Nak....maafkan Ibu nak......." teriak Dina keras, membuat seisi rumah menoleh kepadanya. Bahkan beberapa orang yang berada di luar juga berlari kearah rumah

"Adddiiiiittttt....Sini nak...Ibu akan tiduri kamu...Ibu akan tidur bersamamu Nak....."

"Addiiittttt bangun nak..Ibu sudah pulang...Ibu sudah pulang nak...."

"Ibu ingin tidur bersama mu...."

Dina meraung keras seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya....air matanya mengalir deras. Tak kuasa menahan sedih. Rasanya ingin sekali ia menggoyang-goyangkan tubuh kaku itu agar kembali bergerak....namun Mas Darman segera merangkulnya. Memeluknya. Dan mencium keningnya...

"Bu....ini salah kita..salah Ayah....Ayah terlalu sering meninggalkan keluarga.."

"Bukan Yah...ini salah Ibu...tadi pagi Adit minta ditemani tidur, tapi Ibu tolak..."

"Ya sudahlah...ini salah kita semua. Adit terkena paru-paru basah akut. Dan terlambat ditolong....."

-oooOooo-

Sahabat,

Anak, isteri, suami dan keluarga adalah perhiasan dunia. Perhiasan yang paling indah adalah istri yang sholeh (Amar'atush-Sholihah), suami yang adil ('imamun 'adilun) dan anak-anak yang mendoakan orang tuanya.

Sumber:
http://www.rumah-yatim-indonesia.org/

Kenretno's note:
Menangis sendirian di siang hari di kantor sesaat setelah kubaca tulisan ini. Rasa bersalah dan bimbang sesaat membayangi diri. Ya Allah....selalu ingatkan aku saat aku mulai sedikit melupakan Mu. Tulisan yang tiada bosan kubaca saat rehat sejenak diantara kesibukan sehari-hari. Semoga aku selalu menjadi orang tidak tergolong 'rendah' di kehidupan ini.

Rabu, 26 Mei 2010

Deskripsi Esai, Panduan Menulis, Tips dan Trik, dan Langkah Membuat Esai

Apakah Esai itu?

Sebuah esai adalah sebuah komposisi prosa singkat yang mengekspresikan opini penulis tentang subyek tertentu. Sebuah esai dasar dibagi menjadi tiga bagian: pendahuluan yang berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi subyek bahasan dan pengantar tentang subyek; tubuh esai yang menyajikan seluruh informasi tentang subyek; dan terakhir adalah konklusi yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subyek.

Apa yang membedakan esai dan bukan esai? Untuk menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan dengan merujuk pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan yang telah ada, tetapi pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan yang telah ada sering kali masih tidak lengkap dan kadang bertolak belakang sehingga masih mengandung kekurangan juga. Misal mengenai ukuran esai, ada yang menyatakan bebas, sedang, dan dapat dibaca sekali duduk; mengenai isi esai, ada yang menyatakan berupa analisis, penafsiran dan uraian (sastra, budaya, filsafat, ilmu); dan demikian juga mengenai gaya dan metode esai ada yang menyatakan bebas dan ada yang menyatakan teratur.

Penjelasan mengenai esai dapat lebih "aman dan mudah dimengerti" jika ditempuh dengan cara meminjam pembagian model penalaran ala Edward de Bono. Menurut De Bono, penalaran dapat dibagi menjadi dua model. Pertama, model penalaran vertikal (memusatkan perhatian dan mengesampingkan sesuatu yang tidak relevan) dan kedua model penalaran lateral (membukakan perhatian dan menerima semua kemungkinan dan pengaruh).

Dari pembagian model penalaran ini, esai cenderung lebih mengamalkan penalaran lateral karena esai cenderung tidak analitis dan acak, melainkan dapat melompat-lompat dan provokatif. Sebab, esai menurut makna asal katanya adalah sebuah upaya atau percobaan yang tidak harus menjawab suatu persoalan secara final, tetapi lebih ingin merangsang. Menurut Francis Bacon, esai lebih sebagai butir garam pembangkit selera ketimbang sebuah makanan yang mengenyangkan.

Sejarah Esai

Esai mulai dikenal pada tahun 1500-an dimana seorang filsuf Perancis, Montaigne, menulis sebuah buku yang mencantumkan beberapa anekdot dan observasinya. Buku pertamanya ini diterbitkan pada tahun 1580 yang berjudul Essais yang berarti attempts atau usaha. Montaigne menulis beberapa cerita dalam buku ini dan menyatakan bahwa bukunya diterbitkan berdasarkan pendapat pribadinya. Esai ini, berdasarkan pengakuan Montaigne, bertujuan mengekspresikan pandangannya tentang kehidupan.

Lalu bagaimana pengertian esai menurut Montaigne? Montaigne menuliskan sikap dan pandangannya mengenai esai melalui deskripsi-deskripsinya yang tersirat, sahaja, rendah hati tetapi jernih dalam sebuah kata pengantar bukunya: "Pembaca, ini sebuah buku yang jujur. Anda diperingatkan semenjak awal bahwa dalam buku ini telah saya tetapkan suatu tujuan yang bersifat kekeluargaan dan pribadi. Tidak terpikir oleh saya bahwa buku ini harus bermanfaat untuk anda atau harus memuliakan diri saya. Maksud itu berada di luar kemampuan saya. Buku ini saya persembahkan kepada para kerabat dan handai taulan agar dapat mereka manfaatkan secara pribadi sehingga ketika saya tidak lagi berada di tengah-tengah mereka (suatu hal yang pasti segera mereka alami), dapatlah mereka temukan di dalamnya beberapa sifat dari kebiasaan dan rasa humor saya, dan mudah-mudahan, dengan cara itu, pengetahuan yang telah mereka peroleh tentang diri saya tetap awet dan selalu hidup" (dari "To The Reader").

Kemudian, pada tahun 1600-an, Sir Francis Bacon menjadi Esais Inggris pertama. Bukunya berjudul Essay. Bentuk, panjang, kejelasan, dan ritme kalimat dari esai ini menjadi standar bagi esais-esais sesudahnya. Ada beberapa esai yang formal, dan ada beberapa esai lain yang bersifat informal. Bentuk esai informal lebih mudah ditulis karena lebih bersifat personal, jenaka, dengan bentuk yang bergaya, struktur yang tidak terlalu formal, dan bertutur. Bentuk esai formal lebih sering dipergunakan oleh para pelajar, mahasiswa dan peneliti untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Formal esai dibedakan dari tujuannya yang lebih serius, berbobot, logis dan lebih panjang.

Di Indonesia bentuk esai dipopulerkan oleh HB Jassin melalui tinjauan-tinjauannya mengenai karya-karya sastra Indonesia yang kemudian dibukukan (sebanyak empat jilid) dengan judul Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (1985), tapi Jassin tidak bisa menerangjelaskan rumusan esai.

Tipe Esai

Esai Deskriptif
Esai deskriptif biasanya bertujuan menciptakan kesan tentang seseorang, tempat, atau benda. Bentuk esai ini mencakup rincian nyata untuk membawa pembaca pada visualisasi dari sebuah subyek. Rincian pendukung disajikan dalam urutan tertentu (kiri ke kanan, atas ke bawah, dekat ke jauh, arah jarum jam, dll). Pola pergerakan ini mencerminkan urutan rincian yang dirasakan melalui penginderaan.

Esai ekspositori
Esai ini menjelaskan subyek ke pembaca. Biasanya dilengkapi dengan penjelasan tentang proses, membandingkan dua hal, identifikasi hubungan sebab-akibat, menjelaskan dengan contoh, membagi dan mengklasifikasikan, atau mendefinisikan. Urutan penjelasannya sangat bervariasi, tergantung dari tipe esai ekspositori yang dibuat. Esai proses akan menyajikan urutan yang bersifat kronologis (berdasarkan waktu); esai yang membandingkan akan menjelaskan dengan contoh-contoh; esai perbandingan atau klasifikasi akan menggunakan urutan kepentingan (terpenting sampai yang tak penting, atau sebaliknya); esai sebab-akibat mungkin mengidentifikasi suatu sebab dan meramalkan akibat, atau sebaliknya, mulai dengan akibat dan mencari sebabnya.

Esai naratif
Menggambarkan suatu ide dengan cara bertutur. Kejadian yang diceritakan biasanya disajikan sesuai urutan waktu. Esai persuasif bersuaha mengubah perilaku pembaca atau memotivasi pembaca untuk ikut serta dalam suatu aksi/tindakan. Esai ini dapat menyatakan suatu emosi atau tampak emosional. Rincian pendukung biasanya disajikan berdasarkan urutan kepentingannya.

Esai dokumentatif
Memberikan informasi berdasarkan suatu penelitian di bawah suatu institusi atau otoritas tertentu. Esai ini mengikuti panduan dari MLA, APA, atau panduan Turabian.

Panduan Dasar Menulis Esai

Untuk membuat sebuah esai yang berkualitas, diperlukan kemampuan dasar menulis dan latihan yang terus menerus. Berikut ini panduan dasar dalam menulis sebuah esai.

Struktur Sebuah Esai

Pada dasarnya, sebuah esai terbagi minimum dalam lima paragraf:

1. Paragraf Pertama

Dalam paragraf ini penulis memperkenalkan topik yang akan dikemukakan, berikut tesisnya. Tesis ini harus dikemukakan dalam kalimat yang singkat dan jelas, sedapat mungkin pada kalimat pertama. Selanjutnya pembaca diperkenalkan pada tiga paragraf berikutnya yang mengembangkan tesis tersebut dalam beberapa sub topik.

2. Paragraf Kedua sampai kelima

Ketiga paragraf ini disebut tubuh dari sebuah esai yang memiliki struktur yang sama. Kalimat pendukung tesis dan argumen-argumennya dituliskan sebagai analisa dengan melihat relevansi dan relasinya dengan masing-masing sub topik.

3. Paragraf Kelima (terakhir)

Paragraf kelima merupakan paragraf kesimpulan. Tuliskan kembali tesis dan sub topik yang telah dibahas dalam paragraf kedua sampai kelima sebagai sebuah sintesis untuk meyakinkan pembaca

Langkah-langkah membuat Esai
1. Tentukan topik
2. Buatlah outline atau garis besar ide-ide anda
3. Tuliskan tesis anda dalam kalimat yang singkat dan jelas
4. Tuliskan tubuh tesis anda:
* Mulailah dengan poin-poin penting
* kemudian buatlah beberapa sub topik
* Kembangkan sub topik yang telah anda buat
5. Buatlah paragraf pertama (pendahuluan)
6. Tuliskan kesimpulan
7. Berikan sentuhan terakhir

Memilih Topik

Bila topik telah ditentukan, anda mungkin tidak lagi memiliki kebebasan untuk memilih. Namun demikian, bukan berarti anda siap untuk menuju langkah berikutnya.

Pikirkan terlebih dahulu tipe naskah yang akan anda tulis. Apakah berupa tinjauan umum, atau analisis topik secara khusus? Jika hanya merupakan tinjauan umum, anda dapat langsung menuju ke langkah berikutnya. Tapi bila anda ingin melakukan analisis khusus, topik anda harus benar-benar spesifik. Jika topik masih terlalu umum, anda dapat mempersempit topik anda. Sebagai contoh, bila topik tentang "Indonesia" adalah satu topik yang masih sangat umum. Jika tujuan anda menulis sebuah gambaran umum (overview), maka topik ini sudah tepat. Namun bila anda ingin membuat analisis singkat, anda dapat mempersempit topik ini menjadi "Kekayaan Budaya Indonesia" atau "Situasi Politik di Indonesia". Setelah anda yakin akan apa yang anda tulis, anda bisa melanjutkan ke langkah berikutnya.

Bila topik belum ditentukan, maka tugas anda jauh lebih berat. Di sisi lain, sebenarnya anda memiliki kebebasan memilih topik yang anda sukai, sehingga biasanya membuat esai anda jauh lebih kuat dan berkarakter.
* Tentukan Tujuan
Tentukan terlebih dahulu tujuan esai yang akan anda tulis. Apakah untuk meyakinkan orang agar mempercayai apa yang anda percayai? Menjelaskan bagaimana melakukan hal-hal tertentu? Mendidik pembaca tentang seseorang, ide, tempat atau sesuatu? Apapun topik yang anda pilih, harus sesuai dengan tujuannya.
* Tuliskan Minat Anda
Jika anda telah menetapkan tujuan esai anda, tuliskan beberapa subyek yang menarik minat anda. Semakin banyak subyek yang anda tulis, akan semakin baik. Jika anda memiliki masalah dalam menemukan subyek yang anda minati, coba lihat di sekeliling anda. Adakah hal-hal yang menarik di sekitar anda? Pikirkan hidup anda? Apa yang anda lakukan? Mungkin ada beberapa yang menarik untuk dijadikan topik. Jangan mengevaluasi subyek-subyek tersebut, tuliskan saja segala sesuatu yang terlintas di kepala.
* Evaluasi Potensial Topik
Jika telah ada bebearpa topik yang pantas, pertimbangkan masing-masing topik tersebut. Jika tujuannya mendidik, anda harus mengerti benar tentang topik yang dimaksud. Jika tujuannya meyakinkan, maka topik tersebut harus benar-benar menggairahkan. Yang paling penting, berapa banyak ide-ide yang anda miliki untuk topik yang anda pilih.

Sebelum anda meneruskan ke langkah berikutnya, lihatlah lagi bentuk naskah yang anda tulis. Sama halnya dengan kasus dimana topik anda telah ditentukan, anda juga perlu memikirkan bentuk naskah yang anda tulis.

Membuat Outline

Tujuan dari pembuatan outline adalah meletakkan ide-ide tentang topik anda dalam naskah dalam sebuah format yang terorganisir.
1. Mulailah dengang menulis topik anda di bagian atas
2. Tuliskan angka romawi I, II, III di sebelah kiri halaman tersebut, dengan jarak yang cukup lebar diantaranya
3. Tuliskan garis besar ide anda tentang topik yang anda maksud:
* Jika anda mencoba meyakinkan, berikan argumentasi terbaik
* Jika anda menjelaskan satu proses, tuliskan langkah-langkahnya sehingga dapat dipahami pembaca
* Jika anda mencoba menginformasikan sesuatu, jelaskan kategori utama dari informasi tersebut
4. Pada masing-masing romawi, tuliskan A, B, dan C menurun di sis kiri halaman tersebut. Tuliskan fakta atau informasi yang mendukung ide utama

Menuliskan Tesis

Suatu pernyataan tesis mencerminkan isi esai dan poin penting yang akan disampaikan oleh pengarangnya. Anda telah menentukan topik dari esai anda, sekarang anda harus melihat kembali outline yang telah anda buat, dan memutuskan poin penting apa yang akan anda buat. Pernyataan tesis anda terdiri dari dua bagian:

* Bagian pertama menyatakan topik. Contoh: Budaya Indonesia, Korupsi di Indonesia
* Bagian kedua menyatakan poin-poin dari esai anda. Contoh: memiliki kekayaan yang luar biasa, memerlukan waktu yang panjang untuk memberantasnya, dst.

Menuliskan Tubuh Esai

Bagian ini merupakan bagian paling menyenangkan dari penulisan sebuah esai. Anda dapat menjelaskan, menggambarkan dan memberikan argumentasi dengan lengkap untuk topik yang telah anda pilih. Masing-masing ide penting yang anda tuliskan pada outline akan menjadi satu paragraf dari tubuh tesis anda.

Masing-masing paragraf memiliki struktur yang serupa:

1. Mulailah dengan menulis ide besar anda dalam bentuk kalimat. Misalkan ide anda adalah: "Pemberantasan korupsi di Indonesia", anda dapat menuliskan: "Pemberantasan korupsi di Indonesia memerlukan kesabaran besar dan waktu yang lama".
2. Kemudian tuliskan masing-masing poin pendukung ide tersebut, namun sisakan empat sampai lima baris.
3. Pada masing-masing poin, tuliskan perluasan dari poin tersebut. Elaborasi ini dapat berupa deskripsi atau penjelasan atau diskusi.
4. Bila perlu, anda dapat menggunakan kalimat kesimpulan pada masing-masing paragraf.
Setelah menuliskan tubuh tesis, anda hanya tinggal menuliskan dua paragraf: pendahuluan dan kesimpulan.

Menulis Paragraf Pertama

1. Mulailah dengan menarik perhatian pembaca.
* Memulai dengan suatu informasi nyata dan terpercaya. Informasi ini tidak perlu benar-benar baru untuk pembaca anda, namun bisa menjadi ilustrasi untuk poin yang anda buat.
* Memulai dengan suatu anekdot, yaitu suatu cerita yang menggambarkan poin yang anda maksud. Berhati-hatilah dalam membuat anekdot. Meski anekdot ini efektif untuk membangun ketertarikan pembaca, anda harus menggunakannya dengan tepat dan hati-hati.
* Menggunakan dialog dalam dua atau tiga kalimat antara beberapa pembicara untuk menyampaikan poin anda.
2. Tambahkan satu atau dua kalimat yang akan membawa pembaca pada pernyataan tesis anda.
3. Tutup paragraf anda dengan pernyataan tesis anda.

Menuliskan Kesimpulan

Kesimpulan merupakan rangkuman dari poin-poin yang telah anda kemukakan dan memberikan perspektif akhir anda kepada pembaca. Tuliskan dalam tiga atau empat kalimat (namun jangan menulis ulang sama persis seperti dalam tubuh tesis di atas) yang menggambarkan pendapat dan perasaan anda tentang topik yang dibahas. Anda dapat menggunakan anekdot untuk menutup esai anda.

Memberikah Sentuhan Akhir

1. Teliti urutan paragraf Mana yang paling kuat? Letakkan paragraf terkuat pada urutan pertama, dan paragraf terlemah di tengah. Namun, urutan tersebut harus masuk akal. Jika naskah anda menjelaskan suatu proses, anda harus bertahan pada urutan yang anda buat.
2. Teliti format penulisan. Telitilah format penulisan seperti margin, spasi, nama, tanggal, dan sebagainya
3. Teliti tulisan. Anda dapat merevisi hasil tulisan anda, memperkuat poin yang lemah. Baca dan baca kembali naskah anda.
4. Apakah masuk akal? Tinggalkan dulu naskah anda beberapa jam, kemudian baca kembali. Apakah masih masuk akal?
5. Apakah kalimat satu dengan yang lain mengalir dengan halus dan lancar? Bila tidak, tambahkan bebearpa kata dan frase untuk menghubungkannya. Atau tambahkan satu kalimat yang berkaitan dengan kalimat sebelumnya.
6. Teliti kembali penulisan dan tata bahasa anda.

Sumber :
http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Deskripsi%20Esai,%20Panduan%20Menulis,%20Tips%20dan%20Trik,%20dan%20Langkah%20Membuat%20Esai&&nomorurut_artikel=218 yang diakses pada 27 Mei 2010

Kenretno's Note :
Tulisan yang bisa membuat wawasan diri terhadap kegiatan tulis menulis muncul kembali setelah sesaat dilanda kebingungan dan kevakuman

Selasa, 27 April 2010

Makna Kesabaran

Bagaimana perjuangan dan kerja hari ini ?

Sudahkah tercapaikah target kita ?

Bila belum bersabarlah... mungkin itu hanya karena pikiran kita sudah membayangkan hasil akhir, padahal kita baru saja memulai. Artinya, pikiran kita berada dalam tempat yang berbeda dengan kondisi yang sekarang kita alami.
Mungkin ilustrasi ini bisa membantu.

Bayangkan, kita tengah berada di dalam ruangan konser. Saat sedang asyik menikmati indahnya alunan musik, tiba-tiba ingat bahwa pintu mobil belum dikunci. Pasti kita langsung khawatir terjadi sesuatu terhadap mobil kita. Celakanya, kita tak dapat keluar begitu saja dari ruangan itu. Akibatnya kita menjadi gelisah dan tak dapat lagi menikmati musik konser. Kita begitu tak sabar menunggu konser tersebut berlalu.
Sebenarnya ilustrasi tersebut menggambarkan definisi baru mengenai kesabaran. Kesabaran adalah kemampuan menyatukan badan dan pikiran kita (body and mind) di satu tempat. Nah, begitu badan dan pikiran kita berada di tempat yang berbeda, maka kita akan sangat gelisah dan kehilangan kesabaran.
Lihatlah contoh di atas. Ketika badan dan pikiran kita ada di ruangan konser, kita begitu menikmati segala sesuatunya. Tapi begitu kita sadar bahwa mobil belum terkunci, seketika itu juga pikiran kita beralih ke tempat parkir. Pada saat itu kenikmatan kita menonton berubah menjadi penderitaan, ketegangan dan kegelisahan. Kalau semula kita begitu sabar menikmati indahnya alunan musik detik demi detik, kini kesabaran itu benar-benar habis. Badan kita masih di tempat konser, sementara pikiran ada di tempat lain.
Dengan contoh sederhana ini, mari kita merevisi total pemahaman kita mengenai kesabaran. Selama ini, sabar seringkali diartikan dengan bersedia menderita, bersikap tabah, mengalah, dan seterusnya. Sabar sering diekspresikan dengan mengurut dada. Kita mengalami musibah, kemudian orang datang dan mengatakan,''Bersabarlah
menghadapi cobaan ini.'' Saat kita diperlakukan sewenang-wenang, kawan-kawan kita akan mengatakan, ''Bersabarlah, biar nanti Tuhan yang akan membalas orang itu.''
Tak ada yang salah dengan kata-kata tersebut. Yang salah adalah maknanya. Seolah-olah bersabar hanyalah dikaitkan dengan penderitaan hidup. Karena itu ekspresinya adalah mengurut dada. Ekspresi seperti ini mereduksi begitu banyak makna mengenai kesabaran. Padahal kesabaran adalah rahasia terpenting untuk menikmati hidup. Kalau kita bersabar, kita akan benar-benar menikmati saat-saat terindah dalam hidup kita.
Definisi baru mengenai kesabaran adalah menyatukan badan dan pikiran di satu tempat. Dalam menjalankan pekerjaan misalnya, seringkali kita harus bepergian jauh ke luar kota selama beberapa hari. Saat itu kita mungkin sering merindukan keluarga di rumah. Dan begitu hal tersebut terjadi, kita merasa stres dan kehilangan kesabaran. Kita ingin buru-buru pulang, dan kenikmatan melakukan pekerjaan pun hilang.
Coba amati apa yang kita rasakan saat terjebak kemacetan di jalan. Kita sering menjadi stres. Badan kita masih di mobil tapi pikiran sudah di kantor, di tempat klien atau di rumah. Kita menderita. Sekarang coba lakukan penyatuan badan dan pikiran kita kembali. Kuncinya adalah kesadaran. Sadarilah sepenuhnya apa yang sedang kita alami. Rasakan tubuh kita yang sedang duduk di mobil, rasakan sentuhan tangan kita pada kemudi dan kaki kita yang sedang menginjak pedal. Hidupkan musik kesukaan kita dan amatilah gedung-gedung yang menjulang tinggi. Kita akan merasakan keajaiban. Perlahan-lahan kesabaran kita tumbuh kembali. Bukan itu saja, kita juga akan merasakan rileks. Jangan salah, untuk relaksasi kita tidak membutuhkan waktu dan tempat yang khusus. Yang kita perlukan cuma bersabar. Sabar berarti hidup di masa sekarang dan menikmati keberadaan kita. Bila kita sering tak sabaran kalau menunggu sesuatu, coba satukan badan dan pikiran. Kita akan merasakan bedanya.
Definisi lain dari kesabaran adalah kesediaan kita untuk menjalani prosesnya satu demi satu. Dunia ini diciptakan berproses. Kesabaran berarti menikmati proses tersebut. Dalam hal ini berlaku hukum pertumbuhan, kita hanya menuai apa yang kita tanam. Tak ada hal yang instant ! Kalau kita meninggalkan prosesnya karena ingin cepat kaya, atau ingin cepat terlihat pandai, berarti kita melawan hukum alam. Karena itu,
bersiap-siaplah menerima konsekuensinya pada suatu saat nanti.
Jadi, marilah kita bersabar. Dan hidup akan terasa lebih nikmat. Jangan mengurut dada, karena kesabaran adalah kenikmatan bukannya penderitaan. Apapun karir dan profesi kita, yang menyebabkan kita berhasil bukanlah kepandaian tetapi kesabaran kita. Inilah rahasianya mengapa semua agama selalu mengatakan, ''Innalloha ma a shobiriin - Sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang sabar!''
(Compiled by Fuzna Mz).

Sumber :
http://fuzna.multiply.com/journal/item/67

Kenretno's note:
Kubaca saat rasa sabar mulai menipis. Saat jam telah menunjukan pukul 17.05 WIB, dan aku masih dirumah keduaku. Sementara hujan turun dengan deras dan tanpa bosan terus mengguyur air di atas bumi Surakarta.

Rabu, 14 April 2010

Tips Meningkatkan Kepribadian

Jangan biarkan stress dan pikiran negative mengubah anda menjadi murung, tetaplah gembira dengan latihan kepribadian berikut ini :

Tetaplah tersenyum.

Usahakan tetap tersenyum betapa pun anda memiliki hari-hari yang tidak menyenangkan. Hal ini mungkin terasa seperti terpaksa saat itu tapi anda kemudian akan terheran-heran begitu besar senyum dapat meningkatkan spirit anda.

Pandai mengontrol diri.
Ekspresi wajah merupakan salah satu tanda yang menggambarkan perasaan anda yang paling mudah dikenali. Upayakan ekspresi mimic muka anda netral sekalipun ketika anda tengah marah atau stress dan jangan biarkan dahi berkerut karena kerutan itu perlahan-lahan akan membuat anda tampak lebih tua.

Tetap berkomunikasi
Menutup dan menolak berkomunikasi secara emosi hanya bakal membuat masalah lebih runyam jika hari-hari anda tetap penuh dengan kegelisahan dan ketegangan. Tidak masalah apapun situasinya, cobalah membuat segala sesuatu mudah dan teratur dengan membiarkan berkomunikasi kepada teman atau rekan kerja anda.

Rasakan perasaan orang
Pikirkan bagaimana anda ingin diperlukan orang lain sebelum Anda memuntahkan perasaan kesal kepada orang lain. Tak ada seorang pun di sekitar anda yang ingin menjadi objek cemberut anda. Jika anda tidak ingin diperlukan seperti itu, jangan memberlakukan orang lain seperti itu.

Miliki rasa humor
Seberapa pun beratnya hari-hari anda, cobalah untuk tidak menghilangkan perasaan humor. Tertawa itu baik bagi jiwa dan membantu membuat orang di sekitar anda merasa lebih baik dan tujukan Anda memiliki kepribadian baik.

Sumber:
http://id.shvoong.com/society-and-news/spirituality/1493341-tips-meningkatkan-kepribadian/

Kenretno's note :
Direkomendasikan untuk dibaca, karena 'rasa' yang semakin dilingkupi dengan kebosanan dan ketidakpercayaan terhadap sekitar.

Tiga Tip Untuk Menghindari Kemalasan

Rasanya banyak diantara kita yang punya “penyakit” suka menunda-nunda pekerjaan. Penyakit ini, yang sebetulnya adalah kebiasaan, seringkali disebabkan karena kita malas mengerjakan sesuatu. Malas bangun dari tempat tidur, malas pergi olahraga, malas menyelesaikan tugas kantor, dll.
Menurut penelitian, kebiasaan malas merupakan penyakit mental yang timbul karena kita takut menghadapi konsekuensi masa depan. Yang dimaksud dengan masa depan ini bukan hanya satu atau dua tahun kedepan tetapi satu atau dua menit dari sekarang. Contohnya saja ketika Anda malas dari bangun, Anda akan berkata dalam hati: “Satu menit lagi saya akan bangun”, tetapi kenyataannya barangkali Anda akan berlama-lama di tempat tidur sampai akhirnya memang waktunya tiba untuk siap-siap pergi ke kantor.

Kebiasaan malas timbul karena kita cenderung mengaitkan masa depan dengan persepsi negatif. Anda menunda-nunda pekerjaan karena cenderung membayangkan setumpuk tugas yang harus dilakukan di kantor. Belum lagi berhubungan dengan orang-orang yang Anda tidak sukai, misalnya.

Sayangnya, menunda-nunda pekerjaan pada akhirnya akan mengundang stress karena mau tidak mau satu saat Anda harus mengerjakannya. Di waktu yang sama Anda juga mungkin punya banyak pekerjaan lain.

Dalam beberapa hal, Anda pun mungkin akan kehilangan momen untuk berkembang ketika Anda mengatakan “tidak” terhadap sebuah kesempatan –Anda malas bertindak karena bayangan negatif tentang hal-hal yang memberatkan didepan.

Di artikel ini saya ingin memberikan beberapa tips untuk mengatasi rasa malas. Tips ini bisa Anda praktekkan di tempat kerja ataupun lingkungan keluarga:

Ganti “Kapan Selesainya” dengan “Saya Mulai Sekarang”

Apabila Anda dihadapkan pada satu tugas besar atau proyek, Anda sebaiknya JANGAN berpikir mengenai rumitnya tugas tersebut dan membayangkan kapan bisa diselesaikan. Sebaliknya, fokuslah pada pikiran positif dengan membagi tugas besar tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan menyelesaikannya satu demi satu.

Katakan setiap kali Anda bekerja: “Saya mulai sekarang”.
Cara pandang ini akan menghindarkan Anda dari perasaan terbebani, stress, dan kesulitan. Anda membuat sederhana tugas didepan Anda dengan bertindak positif. Fokus Anda hanya pada satu hal pada satu waktu, bukan banyak hal pada saat yang sama.

Ganti “Saya Harus” dengan “Saya Ingin”

Berpikir bahwa Anda harus mengerjakan sesuatu secara otomatis akan mengundang perasaan terbebani dan Anda menjadi malas mengerjakannya. Anda akan mencari seribu alasan untuk menghindari tugas tersebut.

Satu tip yang bisa Anda gunakan adalah mengganti “saya harus mengerjakannya” dengan “saya ingin mengerjakannya”. Cara pikir seperti ini akan menghilangkan mental blok dengan menerima bahwa Anda tidak harus melakukan pekerjaan yang Anda tidak mau.

Anda mau mengerjakan tugas karena memang Anda ingin mengerjakannya, bukan karena paksaan pihak lain. Anda selalu punya pilihan dalam kehidupan ini. Tentunya pilihan Anda sebaiknya dibuat dengan sadar dan tidak merugikan orang lain. Intinya adalah tidak ada seorang pun di dunia ini yang memaksa Anda melakukan apa saja yang Anda tidak mau lakukan.

Anda Bukan Manusia Sempurna

Berpikir bahwa Anda harus menyelesaikan pekerjaan sesempurna mungkin akan membawa Anda dalam kondisi mental tertekan. Akibatnya Anda mungkin akan malas memulainya. Anda harus bisa menerima bahwa Anda pun bisa berbuat salah dan tidak semua harus sempurna.

Dalam konteks pekerjaan, Anda punya kesempatan untuk melakukan perbaikan berulang kali. Anda selalu bisa negosiasi dengan boss Anda untuk meminta waktu tambahan dengan alasan yang masuk akal. Mulai pekerjaan dari hal yang kecil dan sederhana, kemudian tingkatkan seiring dengan waktu. Berpikir bahwa pekerjaan harus diselesaikan secara sempurna akan membuat Anda memandang pekerjaan tersebut dari hal yang besar dan rumit.

Saya harap tulisan ini berguna. Kemalasan merupakan sesuatu yang normal dalam hidup Anda. Karena dia normal maka dia pun bisa diatasi. Tiga tips diatas bisa menjadi awal untuk berpikir dan bertindak berbeda dari biasanya sehingga Anda tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang hanya karena malas mengerjakannya.

Sumber:
http://www.pengembangandiri.com/articles/56/1/Motivasi-Tips-Mengatasi-Rasa-Malas/Page1.html

Kenretno's note :
Salah satu tulisan favorit (Ditulis oleh Al Falaq Arsendatama), yang bisa membuat 'semangat' terus menyala.

Jumat, 26 Maret 2010

Pengelolaan Terbitan Berseri Di Perpustakaan Sebagai Sumber Informasi Primer Pendukung Kegiatan Keilmiahan

Abstrak
Terbitan berseri atau terbitan berkala adalah terbitan (publikasi) yang memilki waktu/kala terbit tertentu, dengan jarak penerbitan yang yang tetap dan terbit terus menerus tanpa batas waktu tertentu. Sebagai sebuah sumber informasi, terbitan berseri memuat berbagai macam informasi ilmiah yang menggambarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam sebuah terbitan berseri berisi tulisan dengan informasi orisinil yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun atau pubikasi lain. Oleh karena itu, sudah selayaknya perpustakaan memberikan perhatian yang lebih terhadap jenis koleksi perpustakaan yang satu ini. Pengelolaan dan SDM pengelola yang terampil, kreatif, berpengalaman, dan memiliki wawasan yang luas, diharapkan akan mampu menampilkan koleksi terbitan berseri ini dalam suatu layanan yang cukup bisa dihandalkan dalam suatu perpustakaan.
Keyword : terbitan berseri, terbitan berkala, pengelolaan terbitan berseri, layanan terbitan berseri

1. Pendahuluan
1.1 Pengertian Terbitan Berseri
Terbitan berseri atau terbitan berkala adalah terbitan (publikasi) yang memilki waktu/kala terbit tertentu, dengan jarak penerbitan yang yang tetap dan terbit terus menerus tanpa batas waktu tertentu. Terbitan berseri/berkala ini dapat berupa majalah, jurnal, surat kabar, buletin dan lain sebagainya, yang biasanya diterbitkan dengan nomor yang berurutan, terus menerus dan waktu/kala terbit tertentu seperti harian, mingguan, dua mingguan, bulanan, tiga bulanan, tengah tahunan dan sebagainya. Sebagai sebuah sumber informasi, terbitan berseri memuat berbagai macam informasi ilmiah yang menggambarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam sebuah terbitan berseri berisi tulisan dengan informasi yang orisinil yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun atau pubikasi lain.

1.2 Fungsi, Ciri dan Jenis Terbitan Berseri
Tulisan atau ulasan yang dimuat dalam sebuah terbitan berseri/berkala merupakan ide (gagasan) asli seseorang atau beberapa pengarang yang disusun ringkas, sehingga sering disebut dengan literatur primer (Lasa, 1994:21). Sebagai sebuah sumber informasi yang merupakan literatur primer, terbitan berseri memiliki fungsi sebagai media dan ruang untuk menampung ide, gagasan dan pengalaman beberapa orang dalam bidang tertentu; sehingga pembaca akan mendapatkan gambaran tentang potret suatu peristiwa/kejadian dan penemuan-penemuan baru. Selain itu terbitan berseri juga dapat memberikan cakrawala pemandangan yang lebih luas kepada pembaca, karena di akhir dalam setiap tulisan biasanya akan dilengkapi dengan daftar pustaka/bacaan.

Menurut Lasa HS, terbitan berseri/berkala mempunyai ciri/karakteristik yang membedakan dengan publikasi atau koleksi lain1. Beberapa ciri/karakteristik yang dimiliki oleh terbitan berseri adalah:
>Dalam satu kali terbit memuat beberapa tulisan yang ditulis oleh beberapa orang dengan topik dan gaya bahasa yang berbeda
>Artikel atau tulisan pada umumnya tidak terlalu panjang sebagaimana pada buku teks
>Menyampaikan berita, peristiwa, penemuan dan ide baru atau sesuatu yang dianggap menarik perhatian masyarakat pada umumnya
>Dikelola oleh sekelompok orang, yang kemudian membentuk perkumpulan, organisasi maupun susunan redaksi
>Merupakan bentuk arsip ilmiah yang telah diketahui oleh masyarakat umum
>Terbit terus menerus dengan memiliki kala, waktu, frekuensi terbit tertentu

Pengguna terbitan berseri/berkala memiliki ragam tingkat pendidikan dan minat yang cukup banyak dan bervariasi. Dengan memperhatikan hal tersebut, terbitan berseri/berkala memiliki ragam/jenis yang cukup banyak. Menurut Harrod yang dimuat dalam Pengelolaan Terbitan Berseri Di Perpustakaan2 jenis terbitan berseri meliputi majalah (majalah populer dan majalah ilmiah/jurnal), surat kabar, buku tahunan, seri monografi yang bernomor, prosiding, transaction dan memoar. Perkembangan teknologi informasi saat ini, berpengaruh dan berdampak pada koleksi terbitan berseri dalam bentuk elektronik. Misalnya jurnal elektronik, kliping elektronik, online newspaper dan lain-lain, yang informasinya bisa diakses melalui internet dari manapun.

2. Pengelolaan Terbitan Berseri
2.1 Perencanaan & Persiapan
Koleksi terbitan berseri yang banyak memuat informasi tentang penemuan serta proses baru sebuah penemuan, merupakan sumber informasi primer yang banyak dicari oleh pengguna perpustakaan. Oleh karena itu banyak pengguna perpustakaan yang berharap agar perpustakaan menyediakan layanan koleksi ini. Beberapa hal yang perlu direncanakan dan dipersiapkan secara matang agar bisa memberikan layanan terbitan berseri secara optimal adalah:

Anggaran
Diperlukan dana yang tidak sedikit untuk bisa memiliki jenis dan jumlah koleksi terbitan berseri yang cukup lengkap
Pengadaan
Terdapat beberapa cara untuk mengadakan koleksi terbitan berseri di suatu perpustakaan. Beberapa cara tersebut adalah :
Melanggan/membeli
Minta sumbangan/hadiah
Tukar menukar publikasi (exchange publikcation)

Ruangan
Suatu layanan akan berhasil melaksanakan tugas dan fungsi sesuai dengan maksud dan tujuannya, jika didukung sarana yang dikelola seacra benar. Salah satunya adalah gedung atau ruangan yang diatur sedemikian rupa sehingga memberikan kesan yang menyenangkan. Indikasi layanan perpustakaan yang mampu berfungsi secara benar jika ditandai beberapa sifat yang membuatnya berfungsi secara efektif dan efisien, memudahkan pengguna perpustakaan, lingkungan yang nyaman, menyenangkan dan dan menarik sebagai tempat untuk belajar dan bekerja, serta membuatnya tetap berfungsi di sepuluh tahun yang akan datang.

Perabot/meubelair
Diperlukan perabot yang cukup bervariasi dari segi jenis, fungsi dan jumlanya dalam sebuah layanan terbitan berseri. Hal ini dikarenakan jenis terbitan berseri yang cukup banyak, membuat jenis kolesi ini memerlukan banyak jenis dan bentuk perabot dalam penyajiannya.

2.2 Pengolahan Terbitan Berseri
Prinsip pengolahan koleksi terbitan berseri tidak jauh berbeda dengan pengolahan koleksi perpustakaan yang lain. Kegiatan dalam pengolahan terbitan berseri meliputi pemeriksaan materi/koleksi saat datang, pemberian stempel, inventarisasi, entri data sekaligus katalogisasi (jika sudah terotomasi), pemberian label, pembuatan indeks artikel majalah/jurnal dan terakhir adalah penjilidan untuk koleksi yang lama.

Berikut gambaran alur kerja pengolahan koleksi Terbitan Berseri

Mulai



Periksa materi/koleksi



Beri cap/stempel
kepemilikan


Ya Entri Data ke komputer
Otomasi sekaligus inventarisasi
dan katalogisasi

Tidak

Inventaris dalam kartu


Pembuatan Katalog Label berbeda dengan label pada buku teks, tetapi memiliki fungsi yang sama dengan bentuk
dan isi yang lebih sederhana

Beri label untuk mempermudah
temu balik informasi




Selesai


2.2.1 Pemeriksaan materi/Koleksi Saat Datang
Setiap jenis koleksi terbitan berseri yang datang (diterima), hendaknya selalu diperiksa terlebih dahulu. Pemeriksaan ini meliputi status koleksi (apakah diterima sebagai langganan, hadiah/sumbangan atau tukar menukar), surat/blangko penyerta (surat tanda terima jika koleksi merupakan hadiah atau hasil tukar menukar), dan kelengkapan halamannya. Segera isi dan kembalikan surat tanda terima ke alamat pengirim, disertai dengan ucapan terima kasih.

2.2.2 Pemberian Cap/Stempel
Sama seperti pada pengolahan jenis koleksi yang lain, pemberian cap/stempel ini berfungsi untuk memberikan tanda identitas kepemilikan atas barang yang dimiliki. Seperti biasa cap/stempel dapat diberikan di bagian koleksi yang longgar (kosong), dan tidak mengenai tulisan yang ada dalam artikel. Termasuk juga pada bagian sisi dari koleksi ini (yang berbentuk buku).

2.2.3 Pencatatan/Entri Data
Pada pengolahan terbitan berseri yang masih manual, pencatatan koleksi ini dapat dilakukan pada buku catatan besar atau dicatat dalam kartu (kardeks) yang disusun alfabetis dalam kotak dan diberi tanda penunjuk. Kegiatan pencatatan ini dapat mewakili kegiatan inventarisasi dan katalogisasi. Kartu ini berfungsi sebagai kartu registrasi dan kartu katalog bagi pengelola terbitan berseri. Setelah itu dibuatkan kartu katalog untuk setiap judul dari terbitan berseri tersebut. Pada pengolahan terbitan berseri yang telah terotomasi, entri data merupakan gabungan dari kegiatan inventarisasi, katalogisasi dan pembuatan indeks. Pengguna dapat mencari informasi tertentu dari artikel yang ada dalam koleksi terbitan berseri, melalui OPAC yang telah disediakan.

2.2.4 Pemberian Label
Bentuk dan isi label pada koleksi terbitan berseri berbeda dengan label yang ada di koleksi buku teks. Bentuk dan isi label lebih sederhana, tetapi memiliki fungsi yang sama dengan label buku terutama bagi tenaga pengelola dalam penataannya di rak (selving).

2.2.5 Pembuatan Indeks Artikel
Indeks adalah daftar istilah yang disusun berdasarkan urutan abjad atau dengan susunan tertentu yang disertai keterangan yang menunjukkan istilah tersebut berada (Yusup, 1995: 50). Adanya indeks akan memudahkan pengguna yang ingin lebih cepat menemukan informasi dengan topik tertentu. Dalam indeks, artikel-artikel dalam koleksi terbitan berseri tersebut akan didaftar dan dilengkapi dengan ketetapan waktu pemuatan topik-topik informasinya. Pembuatan indeks ini menjadi kegiatan yang penting (vital) dalam pengolahan yang masih manual. Tetapi dapat diabaikan jika pengolahannya sudah terotomasi.

2.2.6 Penjilidan
Apabila nomor-nomor dalam volume yang sama dari suatu judul terbitan berseri sudah lengkap, maka dilakukan proses penjilidan (pembendelan). Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga keutuhan dan kelengkapan nomor-nomor yang ada. Selain itu, proses penjilidan ini merupakan usaha mengumpulkan tulisan-tulisan yang penah dimuat oleh suatu media cetak.
Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan proses penjilidan suatu ahan teritan berseri:
(a)Periksa kelengkapan edisi, halaman, indeks maupun sisipan dan bonus
(b)Halaman judul hendaknya diletakkan pada permulaan judul
(c)Indeks dapat diletakkan di bagian depan atau belakang
(d)Halaman iklan yang tidak relevan dapat dibuang selama pembuangan ini tidak
(e)mengganggu tulisan lain
(f)Kulit majalah dapat dilepas kecuali apabila memuat daftar isi atau daftar artikel penting
(g)Penyusunannya dengan cara meletakkan edisi yang lama diatas, lalu diikuti dengan edisi yang baru dibagian bawahnya dan seterusnya
(h)Pada setiap jilidan hendaknya diberi label yang berisi informasi tentang judul dan edisi dari bahan terbitan berseri yang ada dalam jilidan. Label ini dapat ditempel di punggung jilidan (Lasa, 1994: 90-91)
Hasil dari proses penjilidan ini kemudian dicatat/di inventaris ulang dalam catatan/kartu inventaris tersendiri. Pencatatn ini penting untuk mengetahui judul-judul bahan terbitan berseri apa saja yang telah dijilid, dan berapa jumlah jilidan yang dimiliki.

3. Layanan Terbitan Berseri
3.1 Pemajangan/Display
Sistem pemajangan koleksi terbitan berseri di rak, disesuaikan dengan kebutuhan pengguna dan instansi yang terkait, jenis dan jumlah koleksi terbitan berseri, kualifikasi dan jumlah SDM serta rak dan ruangan yang tersedia. Terdapat beberapa cara untuk pemajangan/display koleksi terbitan berseri tersebut.

Disusun alfabetis
Dalam susunan alfabetis, seluruh koleksi terbitan berseri disusun berdasarkan alfabetis judul terbitan berseri. Sistem penyusunan ini sesuai untuk perpustakaan dengan jenis dan jumah koleksi terbitan berseri yang tidak banyak.

Disusun per subyek (kelompok bidang)
Dalam susunan ini, koleksi terbitan berseri yang ada dikelompokkan kedalam beberapa subyek (biasanya disesuaikan dengan jurusan/program studi/bidang kerja yang ada). Sistem susunan ini sesuai untuk perpustakaan dengan jenis dan jumlah keleksi terbitan berseri yang besar/banyak.

3.2 Sistem Layanan Koleksi Terbitan Berseri
Pada umumnya koleksi terbitan berseri dilayankan dengan sistem terbuka tetapi pemakai hanya boleh membaca di dalam perpustakaan, tidak boleh dipinjam dibawa pulang. Pemakai boleh memfotokopi artikel dari jurnal/majalah yang diinginkan. Selain itu pada layanan terbitan berseri ini terdapat juga beberapa jenis layanan yang ditujukan untuk mengoptimalkan sistem temu kembali informasi.
Layanan-layanan tersebut adalah

Layanan Baca Ditempat dan fotokopi
Layanan ini memberikan kesempatan kepada pengguna untuk menggunakan koleksi terbitan berseri hanya di tempat, dan biasanya diperbolehkan untuk memfotokopi secara bebas. Sebuah layanan yang banyak dilakukan oleh berbagai perpustakaan yang ada saat ini.

Layanan Informasi Terpilih
Layanan ini menyajikan informasi-informasi terpilih yang dapat diakses oleh pengguna untuk menemukan informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Perpustakaan dalam hal ini menyajikan koleksi ataupun informasi sekunder yang akan membawa pengguna kepada informasi utama, misalnya dengan menyediakan indeks artikel, indeks majalah yang terpilih dan lain–lain.

Layanan Penelusuran Informasi
Layanan yang diberikan kepada pengguna untuk mendapatkan informasi yang diperlukan. Biasanya pengguna akan dikenai 'tarip' tertentu untuk membayar apa yang dilakukan dalam layanan ini.

Layanan Bimbingan Penelusuran Informasi
Layanan ini merupakan layanan yang tidak semua perpustakaan memperlakukannya. Layanan ini memberikan kesempatan kepada pengguna untuk mendapatkan bimbingan dari pustakawan setempat untuk dapat membantu pengguna dalam menemukan sumber-sumber informasi yang relevan baginya terutama hubungannya dengan sebuah penelitian, studi kasus, dan kegiatan ilmiah lainnya. Layanan ini banyak diterapkan di perpustakaan perguruan tinggi.

3.3 Kendala/Masalah

Beberapa kendala/masalah yang biasanya muncul dalam pengelolaan dan penyajian koleksi terbitan berseri di perpustakaan adalah
>Terbatasnya dana untuk pengadaan (berlangganan) koleksi terbitan berseri berpengaruh terhadap keberlangsungan layanan terbitan berseri
>Sulitnya melakukan klaim terhadap penerbit atas keterlambatan (ketidak sampaian) majalah/jurnal yang dilanggan
>Kesulitan petugas untuk melanggan/membeli teritan berseri luar negri
>Ketidakaturan publikasi/terbitan berseri dalam negri
>SDM yang kurang berpengalaman dan kurang kreatif
>Promosi yang kurang efektif dan teta letak (ruangan) yang kurang representatif (susah dicari/dijangkau pengguna secara mudah) menyebabkan belum termanfaatkannya layanan terbitan berseri secara lebih optimal

4. Penutup
Layanan terbitan berseri adalah salah satu layanan yang sudah selayaknya bahkan seharusnya ada di suatu perpustakaan. Hal ini disebabkan informasi yang terkandung di dalam koleksi terbitan berseri bersifat mutakhir dan biasanya memuat hasil penelitian terbaru di dari para peneliti di berbagai bidang. Layanan terbitan berseri ini banyak dimanfaatkan oleh pengguna perpustakaan, untuk kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Perlu persiapan dan pengelolaan yang matang untuk mengembangkan layanan terbitan berseri ini. Juga SDM yang kreatif, handal dan memiliki pengalaman serta kemampuan yang lebih untuk bisa memaksimalkan layanan ini. Suatu hal yang layak dan harus diwujudkan di dunia informasi yang berkembang cepat, dan selalu tergantikan dengan informasi yang lebih baru.


DAFTAR PUSTAKA

1.Daryanto. 1986. Pengetahuan Praktis Bagi Pustakawan. Malang: Binacipta

2.Lasa HS. 1994. Pengelolaan Terbitan Berseri. Yogyakarta: Kanisius

3.Sulistya-Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

4.Evans, G. Edward . 1992. Introduction To Library Public Services. Englewood: Libraries Unlimited, Inc.

5.Yusup, Pawit M. 1995. Pedoman Praktis Mencari Informasi. Bandung: Rosdakarya

6.Qalyubi, Syihabuddin, dkk. 2003. Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan Dan
Informasi. Yogyakarta: Jurusan IPI F. Adab UIN Suka

7.Mansjur, Surya; Sophi, Sulastuti; Triani, Suni. 2009. “Mengenal Bahan
Pustaka Dan Cara Mengelolanya”. Bogor: Pusat Perpustakaan Pertanian Dan Komunikasi Penelitian, Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. Diakses di http://www.pustaka-deptan.go.id/pustakawan/Juknis01.pdf pada Sabtu 26 Desember 2009 pukul 08.21 WIB

PENGARUH TI DALAM PENGUASAAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DI PERPUSTAKAAN

(Usaha Perubahan Wawasan dan Sikap Pekerja Informasi/Pustakawan dalam Menjalani Peran Baru Dalam Paradigma Baru di Dunia Perpustakaan)

PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan dan teknologi (Iptek) yang didukung oleh teknologi yang berbasis komputer dan komunikasi berdampak pada terjadinya ledakan informasi (information explosion). Teknologi informasi (TI) telah dimanfaatkan untuk mencipta, memproses, mengolah, menyimpan dan menyebarluaskan informasi. Berbagai sumber informasi muncul dalam aneka tempat atau wadah dengan bentuk materi tercetak (printed), terekam (recorded) dan terpasang (online). Disamping dalam bentuk hardcopy seperti buku, majalah, surat kabar yang bersifat konvensional, kini banyak pula yang berbentuk elektronik seperti e-book, e-jurnal, e-newspapers dan bentuk elektronik lainnya, yang merupakan contoh dari perkembangan Iptek yang didukung oleh TI.
Penguasaan Iptek terkait erat dengan penguasaan TI. Kebutuhan terhadap informasi yang beragam, cepat dan tepat menuntut penggunaan TI. Pengelolaan informasi secara manual akan mengakibatkan ketertinggalan, karena orang berlari kita berjalan. Pada hakikatnya TI adalah pemanfaatan teknologi dalam penciptaaan, penyimpanan, pengelolann dan pelayanan informasi. Dalam hal ini terdapat 3 pakar atau keahlian yang sangat berperan, yaitu 1) Pakar/keahlian dalam ilmu komputer yang selalu mmengembangkan perangkat keras dan perangkat lunak komputer serta memungkinkan pekerjaan manusia dilakukan dengan menggunakan mesin; 2) Pakar/keahlian dalam ilmu komunikasi yang selalu mengembangkan sarana komunikasi dan memungkinkan terhubungnya antar pencipta, pengeloa dan pengguna informasi; 3) Pakar/keahlian dalam ilmu perpustakaan dan informasi (pustakawan) yang selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta melakukan kegiatan pengumpuan, pengolahan dan pelayanan informasi.

Dalam paradigma baru, perpustakaan adalah sesuatu yang hidup, dinamis, segar segar menawarkan hal-hal yang baru, produk layanan yang inovatif, sehingga apapun yang ditawarkan oleh perpustakaan akan menjadi atraktif, interaktif, edukatif dan rekreatif bagi pengunjungnya. Koleksi yang dimiliki perpustakaan merupakan kekayaan (asset) yang harus sebesar-besarnya dimanfaatkan oleh pengguna secara optimal. Sumber informasi (resources) yang dulunya berbentuk satu media (one medium), kini berbentuk maya dan multimedia. Layanan (services) perpustakaan yang dulu berperan sebagai gudang berubah sebagai pasar (supermarket). Pustakawan yang sebelumnya hanya berperan pasif (menunggu pengguna), kini justru harus bisa mempromosikan dan memberdayakan penggunanya2.

Resources

Services


User


Gambar 1 : Information Paradigm Shift
Penggunaan TI di perpustakaan sering menjadi tolok ukur kemajuan dan modernisasi dari sebuah perpustakaan. Hal ini tentu tidak bisa dipungkiri mengingat tuntutan masyarakat yang memang sudah “tahu dan pintar” dengan segala macam bentuk TI. Gejala dan permasalahan serta fenomena inilah yang membawa dampak kepada apa yang disebut dengan Layanan Perpustakaan Berbasis TI. Tentunya ini dengan harapan bahwa apa yang menjadi pertanyaan banyak orang mengenai sentuhan TI di perpustakaan sedikit terjawab melalui layanan berbasis TI ini.
Perkembangan perpustakaan dilihat dari kepentingan pengguna dirasakan belum menggembirakan. Masih banyak “tuntutan” pengguna yang belum dapat dipenuhi oleh perpustakaan, termasuk tersedianya akses layanan berbasis TI ini. Pengembangan TI di sebuah perpustakaan sebenarnya merupakan wujud dari berbagai kepentingan. Kepentingan ini yang mendorong perpustakaan untuk melakukan modernisasi pelayanan dan menerapkan TI dalam aktifitas kesehariannya. Tuntutan kepentingan-kepentingan yang sedemikian besar ini seakan menjadikan “cambuk” bagi perpustakaan untuk berbenah dan selalu berpikir untuk dapat memberikan yang terbaik melalui fasilitas TI ini.

TEORI
Implementasi TI dalam layanan perpustakaan dari waktu ke waktu akan terus berkembang baik untuk keperluan automasi perpustakaan maupun penyediaan media / bahan pustaka berbasis TI ini. Berdasarkan pengamatan, sebenarnya kepentingan ini secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua yakni kepentingan institusi dan kepentingan pengguna perpustakaan. Hanya terkadang apa yang menjadi kepentingan institusi sepertinya “belum berpihak” banyak kepada kepentingan pengguna. Belum lagi masalah prioritas, perpustakaan masih merupakan prioritas kesekian bagi lembaga induknya dalam hal pendanaan dan pengembangan.
Perubahan paradigma pekerja informasi menuntut perubahan dalam melayani pengguna. Pengguna perpustakaan harus dikenali dengan baik, perlakuan kepada mereka harus bervariasi. Pengguna (users) adalah istiah umum yang digunakan, tetapi ada diantara mereka yang dikelompokkan sebagai anggota (members), pembaca (readers), pemerhati (patrons), pelanggan (customers), ataupun sebagai klien (clients). Dengan demikian layanan kepada masing-masing peran pengguna, harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kriteria mereka.

Pustakawan harus mampu menghadapi perkembangan informasi yang terus berpacu dengan perkembangan teknologi di era global ini. Supaya berhasil mengatasinya, pustakawan sebagai tenaga profesional harus memiliki beberapa ketrampilan, antara lain :

* Adaptability
Pustakawan hendaknya cepat berubah menyesuaikan keadaan dan sebaiknya adaptif memanfaatkan teknologi informasi. Pustakawan dalam memberikan nformasi tidak lagi hanya bersumber pada buku teks dan jurnal yang ada di rak, tetapi juga memanfaatkan internet untuk mendapatkan informasi yang up todate bagi penggunanya4

* People skills (soft skills)
Pustakawan adalah mitra intelektual yang memberikan jasanya kepada pengguna dengan kemampuan berkomunikasi yang bagus baik secara lisan maupun tulisan. Oleh karena itu pustakawan dengan kriteria-kriteria berikut sangat diperlukan sebagai people skills yang kuat, yaitu :
a. Pemecahan masalah (kreatifitas, pencair konflik)
b. Etika (diplomasi, jujur, profesional)
c. Terbuka (fleksibel, terbuka untuk wawasan bisnis, berpikir positif)
d. Perayu (ketrampilan komunikasi dan mendengarkan atentif)
e. Kepemimpinan (bertanggung jawab dan kemampuan memotivasi)
f. Berminat belajar (haus akan pengetahuan dan perkembangan).
People skills ini dapat dikembangkan dengan membaca, mendengarkan kaset-kaset positif, berkenalan dengan orang positif, bergabung dengan organisasi positif lain dan kemudian diaplikasikan dalam aktivitasnya sehari-hari5.

* Positive Thinking
Pustakawan diharapkan menjadi orang di atas rata-rata. Sebagai pemenang yang selalu berpikiran positif, sehingga jika dihadapkan pada pekerjaan besar seharusnya berkata “yes” kami bisa. Tidak ada pesimisme dalam kamus hidup pustakawan.

* Personal Added Value
Pustakawan tidak hanya lihai dalam mengatalog, mengindeks, mengadakan bahan pustaka dan pekerjaan rutin lainnya, tetapi di era global ini pustakawan harus mempunyai nilai tambah sebagai navigator unggul dalam mencari informasi khususnya di dunia internet.

* Berwawasan Enterpreneurship
Pustakawan harus berpikir kewirausahaan (entrepreneurship) agar dalam perjalanan sejarahnya nanti dapat bertahan. Paradigma lama bahwa perpustakaan hanya pemberi jasa yang notabene tidak ada uang harus segera ditinggalkan. Pustakawan yang berwawasan bisnis, terutama di era otonomi, perpustakaan secara perlahan harus menjadi income generation unit.

* Team Work - Sinergi
Di dalam era global yang ditandai dengan maraknya internet dan membludaknya informasi, pustakawan seharusnya tidak lagi bekerja sendiri. Mereka harus membentuk team kerja dengan tenaga professional lainnya untuk bekerjasama mengelola informasi.
Dengan enam ketrampilan di atas diharapkan pustakawan akan terus berkembang menjalankan tugasnya seiring dengan perubahan jaman yang begitu cepat. Profesionalisme pustakawan akan lebih mendarah daging dan menjiwai setiap aktivitasnya.

PEMBAHASAN
Teknologi dalam hal ini TI bukan merupakan hal yang murah. Perpustakaan yang ingin mengimplementasikan TI dalam layanan dan aktifitasnya perlu merencanakannya secara matang. Hal ini untuk mengantisipasi agar tidak ada kesia-siaan dalam perencanaan dan pengembangan yang berakibat pula pada pemborosan waktu, tenaga, pikiran dan keuangan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam rangka penerapan TI pada perpustakaan, yakni:
1.Dukungan Top Manajemen / Lembaga Induk
2.Kesinambungan / Kontinuitas
3.Perawatan dan Pemeliharaan
4.Sumber Daya Manusia
5.Infrastruktur Lainnya seperti Listrik, Ruang/Gedung, Furniture, Interior Design, Jaringan Komputer, dsbnya.
6.Pengguna Perpustakaan seperti faktor kebutuhan, kenyamanan, pendidikan pengguna, kondisi pengguna, dll
Hal-hal tersebut diatas akan menentukan sejauh mana keberhasilan penerapan TI di perpustakaan dapat berjalan dengan baik.

Penerapan TI dalam bidang layanan perpustakaan ini dapat dilihat dari beberapa hal seperti uraian berikut :

- Layanan Sirkulasi
Penerapan TI dalam bidang layanan sirkulasi selain layanan peminjaman dan pengembalian, statistik pengguna, dan administrasi keanggotaan, dapat juga dilakukan layanan silang layan antar perpustakaan yang akan lebih mudah dilakukan apabila TI sudah menjadi bagian dari layanan sirkulasi ini. Seperti sudah dimungkinkannya adanya self-services dalam layanan sirkulasi melalui fasilitas barcoding dan RFID (Radio Frequency Identification). Termasuk mulai digunakannya SMS, Faksimili dan Internet, didalam layanan sehari-hari.

- Layanan Referensi & Hasil-hasil Penelitian
Penerapan TI dalam layanan ini dapat dilihat dari tersedianya akses untuk menelusuri sumber-sumber referensi elektronik / digital dan bahan pustaka lainnya melalui kamus elektronik, direktori elektronik, peta elektronik, hasil penelitian dalam bentuk digital, dan lain-lain.

- Layanan Periodikal
Pengguna layanan periodikal (jurnal, majalah, terbitan berkala lainnya) akan sangat terbantu apabila perpustakaan mampu menyediakan kemudahan dalam akses ke dalam jurnal-jurnal elektronik, baik itu yang diakses dari database lokal, global maupun yang tersedia dalam format CD. Bahkan silang layan dan layanan penelusuran informasipun bisa dimanfaatkan oleh pengguna dengan bantuan teknologi informasi seperti internet.

- Layanan Multimedia / Audio-Visual
Layanan multimedia / audio-visual atau yang lebih dikenal sebagai layanan “non book material” adalah layanan yang secara langsung bersentuhan dengan TI. Pada layanan ini pengguna dapat memanfaatkan teknologi informasi dalam bentuk Kaset Video, Kaset Audio, MicroFilm, MicroFische, CD, Laser Disk, DVD, Home Movie, Home Theatre, dll. Layanan ini juga memungkinkan adanya media interaktif yang dapat dimanfaatkan pengguna untuk melakukan pembelajaran, dsbnya.

- Layanan Internet & Computer Station
Internet sebagai icon penting dalam TI, sudah tidak asing lagi dalam kehidupan semua orang. Untuk itu perpustakaanpun harus dapat memberikan layanan melalui media ini. Melalui media web perpustakaan memberikan informasi dan layanan kepada penggunanya. Selain itu perpustakaan juga dapat menyediakan akses internet baik menggunakan computer station maupun WIFI / Access Point yang dapat digunakan pengguna sebagai bagian dari layanan yang diberikan oleh perpustakaan. Pustakawan dan perpustakaan juga bisa menggunakan fasiltas web-conferencing untuk memberikan layanan secara online kepada pengguna perpustakaan. Web-Conferencing ini dapat juga dimanfaatkan oleh bagian layanan informasi dan referensi. OPAC atau Online Catalog merupakan bagian penting dalam sebuah perpustakaan, untuk itu perpustakaan perlu menyediakan akses yang lebih luas baik itu melalui jaringan lokal, intranet maupun internet.

- Keamanan
Teknologi informasi juga dapat digunakan sebagai alat untuk memberikan kenyamanan dan keamanan dalam perpustakaan. Melalui fasilitas semacam gate keeper, security gate, CCTV dan lain sebagainya, perpustakaan dapat meningkatkan keamanan dalam perpustakaan dari tangan-tangan jahil yang tidak asing sering terjadi dimanapun.

- Pengadaan
Bagian Pengadaan juga sangat terbantu dengan adanya teknologi informasi ini. Selain dapat menggunakan TI dan internet untuk melakukan penelusuran koleksi-koleksi perpustakaan yang dibutuhkan, bagian ini juga dapat memanfaatkannya untuk menampung berbagai ide dan usulan kebutuhan perpustakaan oleh pengguna. Kerjasama pengadaan dengan berbagai pihak juga menjadi lebih mudah dilakukan dengan adanya TI ini.
Implementasi TI dalam layanan perpustakaan dari waktu ke waktu akan terus berkembang seiring makin kompleksnya keperluan automasi perpustakaan maupun penyediaan media / bahan pustaka yang berbasis TI.

PENUTUP
Perkembangan ilmu pengetahuan dan dan teknologi (Iptek) yang didukung oleh teknologi yang berbasis komputer dan komunikasi berdampak pada terjadinya ledakan informasi (information explosion). Penguasaan Iptek terkait erat dengan penguasaan TI. Kebutuhan terhadap informasi yang beragam, cepat dan tepat menuntut penggunaan TI. Tidak terkecuali perpustakaan sebagai tempat pengumpulan, pengelolaan, dan pelestarian segala macam bentuk informasi. Peran perpustakaan dan pustakawan sebagai pekerja informasi telah bergeser dari peran konvensional berubah ke peran yang lebih moderen. Peran yang menuntut mereka harus mampu bekerja secara lebih profesional, yaitu mampu untuk seangkah lebih maju dari pengguna perpustakaan (users).
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa perkembangan informasi yang disertai dengan layanan perpustakaan berbasis TI dapat diterapkan di semua bagian perpustakaan. Hal tersebut tergantung pada bagaimana dan apa kebutuhan pengguna dan juga perpustakaan. Proses pengembangan perpustakaan berbasis TI ini harus memperhatikan kepentingan pengguna dan juga kepentingan institusi/organisasi induk yang menaunginya. Termasuk didalamnya faktor kemampuan finansial dari perpustakaan/lembaga induk untuk menerapkan TI dalam layanan perpustakaan ini. Karena TI sebagai sesuatu yang cukup “mahal” merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindarkan lagi.
Demikian juga dengan pustakawan sebagai tenaga pengelola perpustakaan yang senantiasa harus siap menghadapi tantangan perkembangan informasi dan teknologi yang mengiringinya. Dengan sikap dan peran yang terbuka, kreatif, inovatif dan menyukai tantangan, insyaallah terwujud hubungan yang manis antara pustakawan, informasi dan teknologi informasi.


DAFTAR PUSTAKA

1.Hermawan S., Rachman dan Zen, Zulfikar. Etika Kepustakawanan: Suatu
Pendekatan Terhadap Kode Etik Pustakawan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto, 2006
2.Qalyubi, Syihabuddin, dkk. Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan Dan Informasi.
Yogyakarta: Jurusan IPI F.Adab UIN Suka, 2003
3.Rice, James. Teaching Library Use: A Guide For Library Instruction. London:
Greenwood Press, 1981.
4.Sulistyo, Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, 1993
5.Muin, A. Indonesia di Era Dunia Maya. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000
6.Surachman, Arif. Layanan Perpustakaan Berbasis Tekmologi Informasi. http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=60# diakses pada Selasa 14 Oktober 2008 pukul 10.15 WIB
7.http://eprints.rclis.org/archive/00008595/01/prof-profesi.pdf diakses pada Rabu 15 Oktober 2008 pukul 11.35 WIB.
8.Wijoyo, Widodo H. Pendidikan Pengguna di Perpustakaan Perguruan Tinggi:
Prediksi Tentang Kendala Pelaksanaannya. http://widodo.staff.uns.ac.id/2008/12/15/ pendidikan-pengguna-di-perpustakaan-perguruan-tinggi-prediksi-tentang-kendala-pelaksanaannya/ diakses pada Rabu 31 Desember 2008 pukul 10.15 WIB

Rabu, 24 Maret 2010

BUKU KERJA PENGGUNAAN DDC EDISI 22 (Tugas Akhir Mata Kuliah Dasar-Dasar Klasifikasi)

A. PENDAHULUAN

1. Katalogisasi Subyek
Katalogisasi atau pengatalogan adalah proses pembuatan katalog dimana dalam katalog dicantumkan data penting yang terkandung dalam bahan pustaka, baik ciri fisik maupun isi intelektual, seperti nama pengarang, judul buku, penerbit dan subyek.  Jadi katalogisasi adalah proses pengambilan keputusan yang menuntut kemampuan menginterpretasikan dan menerapkan berbagai standar sehingga hal-hal penting dari bahan pustaka terekam menjadi katalog.
Tujuan katalogisasi adalah merupakan sarana yang efisien membantu pengguna perpustakaan dalam memperoleh dokumen.  Menurut Cutter (1876) tujuan katalog adalah sebagai berikut:
1.Memungkinkan seseorang menemukan sebuah informasi/buku yang diinginkan melalui katalog yang dibuat berdasarkan berdasarkan pengarang, judul atau subyek tertentu.
2.Menunjukan informasi/buku yang dimiliki oleh perpustakaan dengan melalui katalog pengarang atau subyek tertentu, dan dalam jenis literatur tertentu.
3.Membantu petugas dalam pemilihan informasi/buku berdasarkan edisi dan karakter dari informasi/buku tersebut.

Jadi untuk melakukan kegiatan katalogisasi dan klasifikasi secara baik dan benar, maka beberapa tip berikut dapat diikuti :
>Mengikuti kaidah klasifikasi yang sudah ada sebagai acuan
>Mengembangkan sendiri sesuai dengan keadaan pada masing-masing perpustakaan
>Jangan takut untuk berkreasi dan berinovasi

2. Analisis Subyek
Sebelum melakukan proses kegiatan klasifikasi, terlebih dahulu kita akan melakukan "analisis subyek” sebagai kegiatan utama yang tidak kalah penting dengan kegiatan mengklasifikasi itu sendiri. Kegiatan analisis subyek ini merupakan kegiatan yang sangat penting dan memerlukan kemampuan intelektual, karena di kegiatan inilah ditentukan subyek apa, dan akan diletakkan dimana suatu dokumen/bahan pustaka tersebut nantinya. Oleh karena itu, analisis ini harus dikerjakan secara cepat, cermat dan konsisten.
Dalam menentukan isi bahan pustaka, pustakawan harus mengetahui tentang apa dokumen/bahan pustaka itu. Setidak-tidaknya seorang pustakawan harus mengetahui hal itu secara umum. Dalam aktivitasnya pustakawan berurusan dengan dunia pengetahuan (universe of knowledge). Meskipun demikian, seorang pustakawan tidak harus seorang pakar (expert) atau ahli dalam suatu bidang pengetahuan. Namun, yang perlu dimiliki oleh seorang pustakawan adalah pengetahuan mengenai sifat, struktur, dan hubungan yang terdapat di antara bidang-bidang pengetahuan satu dengan yang lain.
Untuk melaksanakan kegiatan analisis subyek ini ada dua hal yang perlu diketahui atau dipahami, yaitu tentang "jenis konsep" dan "jenis subyek". Dengan mengenali dua hal tersebut, pustakawan akan sangat terbantu sekali dalam kegiatan menetapkan subyek yang tepat dari suatu dokumen/bahan pustaka tersebut.

2.1. Jenis Konsep
Dalam suatu dokumen/bahan pustaka dapat dibedakan tiga jenis konsep, yaitu disiplin ilmu, fenomena dan bentuk penyajian suatu dokumen/bahan pustaka.

2.1.1 Disiplin Ilmu, yaitu istilah yang digunakan untuk satu bidang atau cabang ilmu pengetahuan. Misalnya hukum, sosiologi, filsafat adalah disiplin-disiplin yang merupakan bidang atau cabang pengetahuan. Disiplin ilmu dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu:
a) Disiplin fundamental, meliputi bagian-bagian utama dari ilmu pengetahuan. Para ahli berbeda pendapat dalam menetapkan disiplin fundamental ini. Namun demikian, ada tiga kelompok disiplin fundamental yang diakui dewasa ini oleh banyak ahli, yaitu Ilmu Sosial, Ilmu Alamiah, dan Ilmu Kemanusiaan
b) Subdisiplin, merupakan bidang spesialisasi dalam satu disiplin fundamental. Misalnya biologi, kimia, fisika adalah subdisiplin dari disiplin fundamental ilmu-ilmu alamiah.

2.1.2 Fenomena, yaitu "benda" atau "wujud" yang dikaji dalam suatu disiplin ilmu. Misalnya Psikologi Remaja, terdapat dua konsep yaitu "Psikologi" dan "Remaja". ”Psikologi" merupakan konsep disiplin ilmu, sedangkan "Remaja" adalah fenomena yang menjadi obyek kajian disiplin tersebut. Obyek atau sasaran yang menjadi fenomena dapat dibedakan menjadi dua, yaitu obyek konkrit (misal: remaja, padi, kendaraan) dan obyek abstrak (misal hukum, moral, cinta)

2.1.3. Bentuk, adalah cara bagaimana suatu subyek disajikan dalam suatu dokumen/bahan pustaka. Konsep bentuk dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a. Bentuk fisik, yakni medium atau sarana yang digunakan dalam menyajikan suatu subyek, misalnya dalam bentuk buku, majalah, kaset, CD-ROM, disket dan sebagainya. Bentuk fisik tidak mempengaruhi isi bahan pustaka.
b. Bentuk penyajian, yaitu menunjukkan pengaturan atau organisasi isi bahan pustaka. Bentuk penyajian ini meliputi :
>Yang menggunakan lambang-lambang dalam penyajiannya, seperti bahasa (dalam bahasa Jawa, Arab dsb.), gambar (peta, karikatur dsb.)
>Yang memperlihatkan tata susunan tertentu, misalnya abjad, kronologis dan sebagainya
>Yang penyajiannya untuk kelompok tertentu. Misalnya Bahasa Arab untukPemula, Internet untuk Pustakawan dan sebagainya. Kedua bahan pustaka tersebut adalah mengenai "Bahasa Arab" dan "Internet" bukan tentang "Pemula" dan "Pustakawan".
c. Bentuk intelektual, yaitu aspek yang ditekankan dalam pembahasan suatu subyek. Misalnya Filsafat Sejarah. Di sini yang menjadi subyek adalah "Sejarah", sedangkan "Filsafat" adalah bentuk intelektualnya. Sebaliknya Sejarah Filsafat, yang menjadi subyek adalah "Filsafat", sedang "Sejarah" adalah bentuk penyajian intelektualnya.

2.2 Jenis Subyek
Dalam kegiatan analisis subyek, ada bermacam-macam jenis subyek suatu dokumen/ bahan pustaka, yang secara umum dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu:
a. Subyek dasar, yaitu subyek yang hanya terdiri atas satu disiplin atau sub disiplin ilmu saja. Misalnya: Pengantar Ilmu Hukum, yang menjadi subyek dasarnya adalah "Hukum".
b. Subyek sederhana, yaitu subyek yang hanya terdiri atas satu faset yang berasal dari satu subyek dasar. Misalnya: Agama di Indonesia, terdiri atas subyek dasar "Agama" dan faset tempat "Indonesia". (Faset ialah sekelompok fenomena yang dikaji oleh disiplin ilmu tertentu dan memiliki satu ciri bersama. Tiap bidang ilmu mempunyai faset-faset yang khas, dan anggota dari satu faset disebut fokus. Sebagai contoh: Dalam ilmu pendidikan dikenal adanya sekolah dasar, sekolah menengah, dan perguruan tinggi, ini semua merupakan anggota dari faset lembaga pendidikan).
c. Subyek majemuk, ialah subyek yang terdiri atas subyek dasar disertai fokus-fokus dari dua faset atau lebih. Misalnya: Hukum Perkawinan di Indonesia, di sini ada satu subyek dasar, yaitu "Hukum" dan dua faset, yaitu "Hukum Perkawinan" (faset jenis) dan "Indonesia (faset tempat).
d. Subyek kompleks, yaitu bila ada dua atau lebih subyek dasar yang berinteraksi antara satu sama lain. Misalnya: Pengaruh Filsafat terhadap Ilmu Kalam, di sini terdapat dua subyek dasar, yaitu "Filsafat" dan "Ilmu Kalam". Untuk menentukan subyek yang mana yang akan diutamakan dalam subyek kompleks ini perlu diketahui hubungan interaksi antara subyek tersebut, yang disebut dengan istilah fase.

Dalam subyek kompleks terdapat empat fase yaitu:
a. Fase bias, yaitu suatu subyek yang disajikan untuk kelompok tertentu. Dalam hal ini subyek yang diutamakan adalah subyek yang disajikan. Misalnya: Komputer untuk perpustakaan, subyek yang diutamakan adalah "Komputer".
b. Fase pengaruh, yaitu bila dua atau lebih subyek dasar saling mempengaruhi antara satu sama lain. Dalam hal ini subyek yang diutamakan adalah subyek yang dipengaruhi. Misalnya: Pengaruh Krisis Ekonomi terhadap Perceraian, di sini subyek yang diutamakan adalah "Perceraian".
c. Fase alat, yaitu subyek yang digunakan sebagai alat untuk menjelaskan atau membahas subyek lain. Dalam hal ini subyek yang diutamakan adalah subyek yang dibahas atau dijelaskan. Misalnya: Penggunaan Analisis Statistik terhadap Keberhasilan Program KB di Indonesia, di sini yang diutamakan adalah “KB".
d. Fase perbandingan, yaitu dalam satu bahan pustaka terdapat berbagai subyek tanpa ada hubungannya antara satu dengan yang lain.

2.3 Langkah-Langkah Praktis Analisis Subyek
Untuk mengetahui subyek suatu bahan pustaka dengan analisis subyek dapat mengikuti langkah-langkah praktis berikut:
1.Melalui Judul, seringkali dengan melihat, mempelajari dan memahami judulnya saja suatu bahan pustaka sudah dapat ditentukan subyeknya. Cara ini biasanya dapat diterapkan pada buku-buku ilmiah atau buku-buku teks.
2.Melalui daftar isi, apabila melalui judul belum dapat diketahui subyeknya, maka adakalanya dengan melihat daftar isi subyek bahan pustaka tersebut dapat diketahui.
3.Melalui daftar bahan pustaka atau bibliografi yanng digunakan oleh pengarang untuk menyusun karya tersebut.
4.Dengan membaca kata pengantar atau pendahuluan. Kadang-kadang dalam pengantar atau pendahuluan, pengarang menyebutkan inti atau topik yang akan dibahas dan ruang lingkupnya.
5.Apabila melalui langkah-langkah di atas masih belum dapat membantu menetapkan subyek bahan pustaka, maka hendaklah dengan membaca sebagian atau keseluruhan dari isi karya tersebut.
6.Menggunakan sumber lain, seperti: Bibliografi, katalog, kamus, biografi, ensiklopedi, tinjauan buku dan sebagainya.
7.Seandainya setelah melalui cara-cara di atas masih belum juga dapat membantu menentukan subyek bahan pustaka, hendaknya menanyakan kepada orang yang ahli di bidang subyek tersebut (subject specialist).

3. Langkah-Langkah Praktis Pra-Penggunaan DDC 22
Untuk dapat memakai DDC dengan baik, diperlukan ketelitian, ketekunan dan latihan. Mempelajari dan memahami pola umum sistem kerja DDC harus dilakukan sebelum memulai kegiatan klasifikasi dengan menggunakan DDC. Berikut beberapa langkah praktis dalam menggunakan DDC.

Prinsip desimal
DDC membagi ilmu pengetahuan ke dalam 10 kelas utama, masing-masing kelas utama dibagi kedalam 10 bagian yang disebut dengan divisi. Tiap-tiap divisi dibagi lagi menjadi 10 bagian lagi yang disebut seksi.

Prinsip Umum ke khusus
DDC membagi ilmu pengetahuan dari subyek umum ke subyek khusus.
Misalnya :
AGAMA
Kelas utama 200
Divisi pertama 201 – 209 karya-karya agama secara umum yang meliputi filsafat, kamus, organisasi dan sejarah agama pada umumnya
Divisi kedua 210 – 219 agama lain
Divisi ketiga 290 – 299 Agama-agama lain selain agama Nasrani

Prinsip Disiplin Ilmu
Sistem DDC didasarkan pada disiplin atau cabang ilmu pengetahuan tertentu. Bidang atau disiplin ilmu pengetahuan dapat dibahas atau didekati dari berbagai aspek.
Misalnya :
AGAMA
Bangunan keagamaan 727
Pendidikan agama dan moral 649.7
Biografi alim ulama 922

Prinsip hierarkhi
Sistem DDC mengikuti pola hubungan dalam notasi, antar disiplin ilmu dan antar subyek. Hubungan antar notasi diartikan bahwa perincian subyek lebih lanjut dilakukan dengan penambahan satu bilangan pada notasi pokok.
Misalnya :
300 Ilmu sosial
340 Ilmu hukum
341 Hukum internasional
341.1 Sumber hukum internasional
341.2 Masyarakat dunia
341.3 Hubungan antar negara

Mnemonik
Dalam DDC sering kali terdapat angka konsisten yang acapkali digunakan untuk membentuk subjek. Angka tersebut mencerminkan subjek yang sama, misalnya Italia memperoleh angka 5 ( namun angka 5 tidak selalu pada Italia). Sistem enumertif merupakan sistem yang mendaftar topik atau bahasan yang ada sementara sistem sintesis analisis merupakan sistem yang mampu mensintesiskan berbagai pokok atau bahasan secara analisis. Gawai untuk keperluan mengingat, mengenali, serta mengembangkan sistem analisis inilah yang disebut dengan mnemonics.

B. DDC (DEWEY DECIMAL CLASSIFICATION)
1.Bagan Utama
Dewey membagi berbagai disiplin pengetahuan yang ada ke dalam sepuluh kelas utama (main class), dengan satu “Generalities”. Ke-sepuluh kelas utama tersebut adalah:
000 Ilmu komputer, informasi umum
100 Filsafat & psikologi
200 Agama
300 Ilmu Sosial
400 Bahasa
500 Sains
600 Teknologi
700 Seni & rekreasi
800 Sastra
900 Sejarah & geografi

Selanjutnya, kelas-kelas utama tersebut dibagi lagi ke dalam sepuluh divisi, yang masing-masing divisi dibagi lagi ke dalam sepuluh section.

000 Ilmu Komputer, informasi umum
010 Bibliographies
020 Perpustakaan & ilmu informasi
030 Encyclopedias & buku fakta
040 [Unassigned]
050 Majalah, jurnal & SERIALS
060 Asosiasi, organisasi & museum
070 Berita media, jurnalistik & penerbitan
080 Kutipan
090 Mushaf & buku langka

100 Filsafat & psikologi
110 Metafisika
120 Epistemology
130 Parapsikologi & okultisme
140 Sekolah pemikiran
150 Psikologi
160 Logic
170 Kode Etik
180 Purba, abad timur & filosofi
190 Filsafat barat modern

200 Agama
210 Filsafat & teori agama
220 Alkitab
230 Kekristenan & teologi Kristen
240 Praktek & pemeliharaan Kristen
250 Praktik kehidupan Kristen & agama pesanan
260 Organisasi Kristen, pekerjaan sosial & ibadah
270 Sejarah Kekristenan
280 Christian denominations
290 Agama lain-lain

300 ilmu sosial, sosiologi & antropologi
310 Statistik
320 Ilmu politik
330 Ekonomi
340 Hukum
350 Umum & administrasi militer ilmu
360 Sosial & masalah pelayanan sosial
370 Pendidikan
380 Niaga, komunikasi & transportasi
390 Bea Cukai, etiket & cerita rakyat

400 Bahasa
410 Linguistik
420 Bahasa Inggris & bahasa Inggris Lama
430 Bahasa Jerman & terkait
440 Bahasa Prancis & terkait
450 Italia, Rumania & bahasa terkait
460 Bahasa Spanyol & Portugis
470 Bahasa Latin & Miring
480 bahasa Yunani klasik & modern
490 Bahasa Lain-lain

500 Ilmu-ilmu Terapan
510 Matematika
520 Astronomi
530 Fisika
540 Kimia
550 Bumi & ilmu geologi
560 Orangtua & prasejarah kehidupan
570 Life sciences; biologi
580 Tanaman (Botani)
590 Animals (Hewan)

600 Teknologi
610 Kesehatan & Pengobatan
620 Rekayasa
630 Pertanian
640 Manajemen Rumah & keluarga
650 Management & public relations
660 Chemical engineering
670 Manufaktur
680 Industri spesifik
690 Bangunan & konstruksi

700 Seni
710 Landscaping & perencanaan wilayah
720 Arsitektur
730 Sculpture, keramik & Logam
740 Pendapat & seni dekoratif
750 Lukisan
760 Grafika seni
770 komputer Fotografi & seni
780 Musik
790 Olahraga, permainan & hiburan

800 Literatur, retorika & kritik
810 American literatur dalam bahasa Inggris
820 Bahasa Inggris Lama & sastra
830 Sastra Jerman & terkait
840 Sastra Prancis & terkait
850 Sastra Italia, Rumania & terkait
860 Sastra Spanyol & Portugis
870 Latin & Miring sastra
880 Sastra Yunani klasik & modern
890 Sastra lain-lain

900 Sejarah
910 Geografi & travel
920 Biografi & silsilah
930 Sejarah kuno dunia (ke ca.499)
940 Sejarah Eropa
950 Sejarah Asia
960 Sejarah Afrika
970 Sejarah Amerika Utara
980 Sejarah Amerika Selatan
990 Sejarah daerah lain

Selanjutnya susunan hirarkhi secara terperinci dari salah satu subyek (klas utama) adalah sebagai berikut:
400 Bahasa
410 Linguistik
411 Menulis sistem
412 Etimologi
413 Kamus
Dan seterusnya.

2.Indeks Relatif
Untuk membantu mencari notasi suatu subyek dalam suatu dokumen, dalam DDC terdapat daftar dari banyak istilah yang disebut dengan "indeks relatif". Di dalam indeks relatif ini terdaftar sejumlah istilah yang disusun menurut abjad, yang mengacu ke notasi yang ada dalam bagan. Di dalam indeks relatif ini didaftar terdapat juga sinonim untuk suatu istilah serta hubungan-hubungan dengan subyek lain.
Misalnya :
Hewan
Anatomi 591.4
Cerita tentang 800
Kedokteran 636.089
Menggambar 743.6
Pertunjukan 791.8

Meskipun dalam DDC dilengkapi dengan indeks relatif, proses klasifikasi tidak boleh langsung memberikan nomor/notasi pada suatu koleksi dengan angka yang diperoleh melalui indeks relatif. Tetapi harus dicek dan dicocokkan dahulu dengan nomor/notasi yang ada di bagan utama DDC.



3.Tabel-Tabel
3.1 Tabel 1 Standar Subdivisi
Notasi dalam Tabe 1 tidak pernah digunakan secara tersendiri, tetapi dapat digunakan dengan setiap notasi di bagan utama .Dalam Tabel 1 pembagian notasi menggunakan 0, 00 atau 000 disesuaikan denganinstruksi yang ada.
Ringkasan notasi Tabel 1 adalah :
-01 Filsafat dan Teori
-02 Aneka Ragam
-03 Kamus, Ensiklopedi, Konkordans
-04 Topik-Topik Khusus
-05 Penerbitan Berseri
-06 Organisasi dan Manajemen
-07 Pendidikan, Penelitian, dan Topik-topik Berkaitan
-08 Sejarah dan Diskripsi Berkenaan Jenis-jenis Orang
-09 Pengeloaan Historis, Geografis, Perorangan

Beberapa prinsip penggunaan Tabel 1 adalah sebagai berikut
Jika notasi sudah tercetak dalam bagan, maka Tabel 1 bisa langsung ditambahkan
Contoh :
A Diretory of Mineralogist

549 Mineralogy
-025 (T1) Directories of persons and organizations
==> 549 + -025 (T1)
549.025

Jika notasi sudah tercetak, maka menggunakan 0
Contoh :
The Quarterly Journal of Technology

600 Technology (Applied Science)
-05 (T1) Serial Publications
==> 600 + -05 (T1)
6 + -05
605

Jika dalam notasi sudah tercetak 0, maka menggunakan 00
Contoh :
Current Methods Used in Adult Education Research

374 Adult Education
-072 (T1) Research
==> 374 + -072 (T1)
374.0072 (bukan 374.072)

Jika dalam notasi sudah tercetak 00, maka menggunakan 000
Contoh :
* Outline of Eastern European History

947 Eastern Europe. Union of Soviet Socialist Republics (Soviet Union)
-0202 Synopses and outline
==> 947 + -0202 (T1)
947.000202 (bukan 947.0202)

* Kamus Hukum

340 Ilmu Hukum
-03 (T1) Kamus, ensiklopedi, konkordans

==> 340 + -03 (T1)
340.003 (bukan 340.03)

3.2 Tabel 2 Wilayah
Pemakaian notasi dalam Tabel 2 digunakan bersama dengan notasi yang ada di bagan utama, dengan melalui notasi -09 dari Sub divisi standard.
Ringkasan dari Tabel 2 :
-1 Wilayah Geografi, Periode Sejarah, Orang
-2 Manusia (Orang)
-3 Dunia Kuno
-4 Eropa, Eropa Barat
-5 Asia, Timur Jauh
-6 Afrika
-7 Amerika Utara
-8 Amerika Selatan
-9 Bagian lain dunia dan dunia extraterestrial, Oceania

Beberapa prinsip penggunaan Tabel 2 adalah sebagai berikut :
Notasi Subyek Dasar + T2 (secara langsung)
Contoh:
Patriotic Societies of France

369.2Hereditary, Military, Patriotic Societies
-44 (T2) France and Monaco
==> 369.2 + -44 (T2)
369.244

Notasi Subyek Dasar + -09 (T1) + T2
Contoh :
A History of Mining in 19th Century Colorado

622 Mining and Related Operations
-09 (T1) Historical, Geographical person treatment
-788 (T2) Colorado
-09034 (T1) 19th century, 1800-1899
==> 622 + -09 (T1) + -788 (T2) + -09034 (T1)
622.0978809034

Notasi 9 + T2 (Untuk subyek sejarah)
Contoh :
The History of Pawtucket, Rhode Island

900 Geography, history and auxiliary disciplines
-7451 (T2) Providence County
==> 900 + -7451 (T2)
9 + -7451
974.51

Notasi 91 + T2 (Untuk subyek Geografi)
Contoh :
Geography of Martha's Vineyard, Massachusetts

910 Geography and Travel
-74494 Dukes County
==> 910 + -74494 (T2)
91 + -74494
917.4494

3.3 Tabel 3 Subdivisi Sastra
Dalam klas sastra atau notasi 800 an dikenal dengan bentuk penyajian khusus yang disebut dengan Sub Divisi Masing-Masing Sastra.
T3 ini dibagi dibagi ke dalam 3 sub tabel, yaitu Tabel 3A, Tabel 3B dan Tabel 3C
* Tabel 3A, digunakan untuk sub divisi bagi karya yang disusun oleh atau tentang pengarang individu
* Tabel 3B, digunakan untuk sub divisi bagi karya yang dibuat oleh atau tentang pengarang lebih dari satu
* Tabel 3C, notasinya ditambahkan sesuai dengan instruksi yang ada pada T3B, notasi 700.4, notasi 791.4 dan notasi 808 – 809

Bentuk-bentuk tabel sastra diantaranya adalah
-1 Puisi
-2 Drama
-3 Fiksi
-4 Esei
-5 Pidato
-6 Surat/Abjad
-7 Humor & Satire (Sindiran)
Tidak digunakan dalam Tabel 3A (tidak digunakan untuk karya pengarang individu)
-8 Karya Sastra Kumpulan

Notasi dasar sastra untuk klas yang diakhiri dengan 0 adalah angka sebelum 0 (angka 0 dihilangkan)
Contoh :
Sastra Inggris 82 bukan 820

Cara Penggunaan Tabel 3
Notasi sudah terdaftar dalam bagan tetapi belum lengkap
Contoh :
* French Drama 842

840 French
-2 (T3) Drama
==> 840 + -2 (T3)
84 + -2
842

* An Antology of English Fantasy

820 Antology in English
-08 (T3B) Collections of Literary texts in more than one form
-015 (T3C) Symbolism, allegory, fantasy, myth
==> 820 + -08 (T3B) + -015 (T3C)
82 + -08 + -15
820.8015

Notasi tidak terdaftar dalam bagan
Contoh :
* French Drama for Radio and TV

==> 840 + -202 (T3)
84 + -202
842.02


* Deutch Literature

830 Deutch
-9312 (T3)
==> 830 + 9312 (T3)
83 + 9312
839.312

3.4 Tabel 4 Subdivisi Bahasa
Penggunaan aturan pemakaian Tabel 4 adalah sama dengan Tabel 3, yaitu notasi dasar bahasa untuk klas yang diakhiri dengan 0 adalah angka sebelum 0 (angka 0 tidak digunakan/dihilangkan)
Ringkasan dari Tabel 4 adalah :
-1 Sistem penulisan, fonologi, fonetik dari bentuk standar bahasa
-2 Etimologi standar bentuk bahasa
-3 Kamus standar bentuk bahasa
-5 Grammar Standar bentuk bahasa
-7 Variasi Sejarah dan Geografi, variasi nongeografi modern
-8 Standar penggunaan bahasa (linguistic perspektif) penggunaan linguistic

Contoh :
Language Today (A Canadian English Language Periodical)

420 English and Old English (Anglo-Saxon)
-05 (T1) Seral Publications
==> 420 + -05 (T1)
42 + -05
420.5

Cara penggunaan Tabel 4
Penggunaan Tabel 4 adalah sama dengan penggunaan Tabel 3 yaitu :
Notasi sudah terdaftar dalam bagan tetapi belum lengkap
Contoh :
Tata Bahasa Indonesia
==> 499.221 + -5 (T4)
499.221 5

Notasi tidak/belum terdaftar dalam bagan
Contoh :
The Definitive French Dictionary

440 Romamce Language French
-3 (T4) .3 Dictionaries of the standard form of the language
==> 440.3

Penggunaan Kans untuk meklasifikasi koleksi kamus
Kamus Satu Bahasa
Contoh :
Kamus Tata Bahasa Indonesia

499.221 Tata bahasa Indonesia
-03 (T1) Kamus
==> 499.221 + -03 (T1)
499.221 03

Kamus Dua Bahasa
Pedoman dalam mengklasifikasi kamus 2 bahasa adalah
Bahasa yang Kurang Dikenal diambil dari bagan + -3(T4)+ Bahasa yang lebih dikenal diambil dari T6
Contoh :
Kamus Inggris Indonesia
Di Negara Indonesia, kamus tersebut memiliki nomor klasifikasi sebagai berikut :

==> 420 + -3 (T4) + 992 21 (T6)
42 + -3 + 992 21
423.992 21

Di Inggris, dengan judul yang sama, klasifikasi tersebut menjadi berbeda, yaitu:

==> 499 221 + -3 (T4) + -21 (T6)
499.221 321

Kamus Lebih dari 2 bahasa (Poliglot)
Untuk jenis kamus polyglot, menggunakan nomor 413.
Contoh :
A dictionary with terms in English, French, and German, but with definitions only in English 413.21

413 Polyglot
-21 (T2) English
==> 413 + -21 (T2)
413.21


3.5 Tabel 5 Ras Etnik dan Kebangsaan
Tabel 5 tidak pernah digunakan secara tersendiri, tetapi digunakan dengan menambahkan notasi dari Tabel 5 secara langsung ke notasi di bagan (selama ada perintah) atau menambahkan -89 dari Tabel 1 dan notasi dari Tabel 5.
Ringkasan Tabel 5 adalah :
-1 Amerika Utara
-2 Bangsa Inggris, Anglo saxon
-3 Bangsa Jerman
-4 Bangsa Latin Modern.
-5 Bangsa Italia, Rumania dan sejanis
-6 Bangsa Spanyol dan Portugis
-7 Bangsa Italia yang lain
-8 Bangsa Yunani dan sejenisnya
-9 Kelompok ras, Etnik, dan Nasional yang lainnya
Contoh :
* History of the Burmese in New Zealand

993 New Zealand
993.004 Racial, ethnic, national groups
-958 (T5) Buemese
==> 993.004 + -958 (T5)
993.004958

* Seni Melipat Kertas Khas Jepang

736.982 Origami
-956 (T5) Japanese
==> 736.982 + -956 (T5)
736.982956

* World History of the Irish People

909 World History
909.04 History with respect to racial, ethnic, national groups
-9162 (T5) Irish
==> 909.04 + -9162 (T5)
909.049162

3.6 Tabel 6 Bahasa
Tabel 6 adalah tabel "Bahasa," yaitu tabel yang digunakan untuk menunjukkan bahasa tertentu. Ringkasan dari Tabel 6 adalah;
-1 Bahasa Indo-Eropa
-2 Bahasa Inggris dan Inggris Kuno (Anglo Saxon)
-3 Bahasa Jerman
-4 Bahasa Roman
-5 Bahasa Italia, Sardinian, Dalmatian, Romania, Rhaeto-Romanic
-6 Bahasa Spanyol dan Portugis
-7 Bahasa Italic
-8 Bahasa Hellenic
-9 Bahasa Lainnnya

Contoh :
* A Modern Version of the Bible in Japanese

220 Bible
220.5 Modern Versions and Translations
-956 (T6) Japanese
==> 220.5 + -956 (T6)
220.5956

* Pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia

419.071 Pengajaran
-2 (T6) Bahasa Inggris
-09 (T1) Pengolahan historis, geografis, perorangan
-588 (T2) Indonesia
==> 419.0712 + -2 (T6) + -09 (T1) + -588 (T2)
419.07109588

* Terjemahan Al-Qur’an dalam Bahasa Cina

297.1225 Terjemahan Al Quran
-951 (T6) Cina
==> 297.1225 + -951 (T6)
297.107598


4.Prinsip-prinsip Tambahkan pada (Add to base number ....)
Cara kerja prinsip ini adalah dengan menambahkan nomor yang ada dalam bagan sesuai dengan perintah yang terdapat dalam bagan tersebut. Untuk menambahkan secara langsung notasi yang ada pada Tabel 2 ke notasi subyek dasar (SD), harus ada instruksi “Add to base number…”
Prinsip-prinsip yang harus diingat dalam instruksi “Tambahkan pada (Add to base number…)” adalah:

Bagan + Bagan
Contoh :
* The manufacture of equipment for basketball

688.76 Equipment for outdoor sports and games
Add to base number 688.76 the numbers following 796 in 796.1-796.9, e.g., tennis rackets 688.76342 ; however, for skates, skateboards, skis, see 685.36; for camping equipment, see 685.53 For equipment for equestrian sports and animal racing, see 688.78; for equipment for fishing, hunting, shooting, see 688.79
-232 Basketball
==> 688.76 + -76
688.76232

Bagan + Tabel
Contoh :
* Kondisi dan Situasi Ekonomi di Indonesia

338.09 Kondisi dan Situasi Ekonomi
(Class here existing and potential resources for production, industrial conditions and situation, industrial surveys, location of industry. Add to base number 338.09 notation T2--001-T2--9 from Table 2, e.g., industrial surveys of Canada 338.0971)
-598 (T2) Indonesia
==> 338.09 + -598 (T2)
338.09598

* Peta Indonesia

912 Peta
Add to base number 912 notation T2--3-T2--9 from Table 2, e.g., maps of Du Page County, Illinois 912.77324
-598 (T2) Indonesia
==> 912 + -598 (T2)
912.598

Tabel + Tabel
Contoh :
* Prospecting for Gold in Colorado

622.1841Gold prospecting
Add to base number 622.18 the numbers following 553 in 553.2-553.9, e.g., prospecting for petroleum 622.1828 ; however, for prospecting for water, see 628.11
Standard subdivisions are added for specific materials even if only one type of prospecting is used, e.g., seismic exploration for petroleum inTexas 622.182809764
-09 (T1) Historical, geographical, person treatment
-788 (T2) Colorado
==> 622.1841 + -09 (T1) + -788 (T2)
622.184109788

C. PENUTUP
Dalam DDC, pengetahuan dibagi menjadi 9 kelas utama yaitu Filsafat, Teologi, Sosiologi (kemudian Ilmu-Ilmu sosial),Flologi, Ilmu Alam, Useful arts, kesenian(Fine arts), sastra, dan sejarah. Beberapa diantaranya kini tidak dianggap lagi sebagai disiplin.Kini lebih di anggap sebagai bidang kajian dengan masing-masing bidang mencakup beberapa disiplin akademis.Pada universitas modern, bidang semacam Filsafat, bahasa, kesenian, dan sastra di kelompokkan dalam kelompokkan Humaniora, sejajar dengan bidang kajian lain seperti Ilmu-Ilmu Sosial dan Ilmu-Ilmu Alam. Ilmu-Ilmu Sosial terdiri dari beberapa disiplin.
Dari penjelasan diatas maka didapatkan beberapa kesimpulan yang mengacu pada kelebihan dan kelemahan DDC. Beberapa kelebuhan DDC adalah
1.DDCmerupakan sistem yang peraktis dan merupakan bagain klasifikasi yang paling banyak digunakan didunia,termasuk indonesia.
2.DDC menggunakan lokasi relatif untuk pertama kalinya
3.Revisi berkala dengan interval teratur menjamin kemutakhiran bagan klasifikasi Dewey.
4.Notasi murni dengan angka arab dikenal dengan universal.
5.Urutan numerik kasak mata memudahkan penjajaran dan penempatan buku di rak.
6.Sifat hirarkis notasi DDC mencerminkan hubungan antara nomor kelas.
7.Penggunaan notasi desimal memungkinkan perluasan dan pembagian subdivisi tanpa batas.
8.Sifat mnemoniks notasi membantu pemakai mengingat dan mengenali nomor kelas.

Sedangkan kelemahan yang muncul dari sistem DDC adalah sebagai berikut:
1.Klasifikasi Dewey terlalu berorientasi pada sifat Anglo Saxon serta kristiani.
2.Penempatan beberapa subjek tertentu dipemasalahkan.
3.Basis sepuluh DDC membatasi kemampuan perluasan sistem notasi, karena dari sepuluh divisi hanya sembilan yang dapat diperluas untuk memberi tempat subjek yang bertingkat sama dalam hierarki.
4.Perluasan sebuah subjek dxap[at dilakukan dengansistem desimal.
5.Relokasi dan phonix schedule sering menimbulkan masalh bagi pustakawan.
6.Laju pertunbuhan ilmu pengetahuan tidak sama sehingga membuat struktur ilmu pengetahuan tidak seimbang.
Buku kerja ini dibuat oleh penyusun sebagai tugas akhir dari mata kuliah Dasar-Dasar Klasifikasi. Dengan tujuan untuk memudahkan proses klasifikasi bagi seorang petugas pengolahan bahan pustaka. Semoga keberadaan buku kerja ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin memakai DDC dalam proses klasifikasi.


DAFTAR PUSTAKA

1.Qayubi, Syihabuddin, DKK. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan Dan Informasi. Yogyakarta: IPI Fakultas Adab UIN Suka, 2007

2.Sulistyo-Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,1991

3.Hamakonda, Towa P. Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey. Jakarta: BPK Gunung Muia, 1995

4.Mitcell, Joan S. DDC Summaries 21 : A Brief.
http://www.gpntb.ru/win/inter-events/crimea96/report/DOC1/84.html yang diakses pada Senin 16 Maret 2009 pukul 10.45 WIB

5.DDC edisi 21 versi elektronik

6.Ramdan. Sejarah dan Karakteristik DDC.
http://dalamzero1.blogspot.com/2008/12/sejarah-dan-karakteristik-ddc.html yang diakses pada Kamis 11 Juni 2009 pukul 12.54 WIB